Berita

Bersama IKOPIN University, ICMI Orwil Jabar Gelar Diskusi Publik Ketahanan Pangan dan Prevalensi Stunting

71
×

Bersama IKOPIN University, ICMI Orwil Jabar Gelar Diskusi Publik Ketahanan Pangan dan Prevalensi Stunting

Sebarkan artikel ini
Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Barat bersama Ikopin University menggelar Diskusi Publik Ketahanan Pangan dan Prevalensi Stunting di Graha Suhardani IKOPIN University,  Jatinangor, Rabu (30/8/2023). (Foto: Dok RD Institute)

Sukabumihitz.com, Jatinangor– Komoditas pangan yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi salah satu industri unggulan berperan penting dalam proses pemulihan ekonomi di Jawa Barat. Namun harga pangan yang merangkak meningkat seiring dengan kondisi ekonomi yang sebelumnya pulih  akibat pandemi juga menjadi faktor utama.

Hal inilah yang menginisiasi Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Barat bersama Ikopin University sebagai organisasi masyarakat dan perguruan tinggi yang berada dalam wilayah Jawa Barat untuk berkontribusi membantu Pemprov dalam upaya meningkatkan indeks Ketahanan Pangan Jawa Barat, agar mampu melengkapi prestasi-prestasi lainnya yang telah dicapai secara gemilang.

Demikian disampaikan oleh Ketua ICMI Orwil Jabar, Prof. Dr. Ir. H. Sutarman, M.Sc, IPU saat membuka diskusi publik dengan tajuk “Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Menurunkan Prevalensi Stunting Balita dengan Kolaborasi Penthahelic untuk mendukung Akselerasi Jawa Barat Juara Lahir-Batin” di Graha Suhardani IKOPIN University,  Jatinangor, Rabu (30/8/2023).

“Pangan menjadi isu penting di jawa barat. Dengan segala dinamikanya, kita perlu terus berikhtiar mencari solusi terbaik untuk mewujudkan Jabar Juara Lahir Batin. Kita gak bisa pungkiri bahwa kondisi perekonomian masyarakat di masa pemulihan saat ini memang serba sulit. Selain bahan pangan yang harganya mulai merangkak naik, tingkat pengangguran juga relatif masih tinggi. Ini dampaknya luar bisa. Kami menginisiasi  diskusi ini dengan menghadirkan pakar dan akademisi di IKOPIN University,” ujar Prof Sutarman dalam rilis yang diterima Sukabumihitz.com.

“Kami mengucapkan terima  kasih kepada seluruh narasumber yang sudah berpartisipasi, di  antaranya: 1.Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.Sc (Penasehat Menteri KKP), 2. Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, MS (Rektor IKOPIN University),3. Kombespol dr. Adang Azhar, Sp.F.,DFM (Kabiddokkes Polda jabar), 4. Forkopimda Jabar dan  5. Dr. M. Samsuri, S.Pd., MT (Ketua LLDIKTI IV Jabar dan Banten),” terang Prof.  Sutarman.

Apresiasi juga diberikan kepada Ir. H. Entang Sastraatmaja selaku moderator diksui publik.

Prevalensi Stunting

Usai sambutan Prof. Sutarman, Rektor IKOPIN University Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, MS juga menyebutkan angka prevalensi stunting Provinsi Jawa Barat adalah 20,2%, masih di atas minimum yang ditetapkan WHO, sementara untuk 27 kabupaten/kota memiliki disparitas yang tinggi antara 27,6 hingga 6%.

“Target Provinsi Jawa Barat mencapai 14% pada tahun 2024 patut mendapat dukungan dari semua pihak, agar target tersebut dapat diraih melalui kerjasama multi pihak (penthahelic),” ujarnya.

Prof Agus mengungkapkan bahwa diskusi ini sejatinya bermuara pada gerakan budaya masyarakat yang menghasilkan solusi ketahanan pangan dan stunting diketuai Kepala Kejaksaan Tinggi atau Kapolda Jabar dengan anggota pemegang tugas dan fungsi kesehatan masyarakat di Jawa Barat.

Selain itu, seluruh perguruan tinggi dan lembaga akademis terkait, menjadi lembaga supporting untuk masukan pengetahuan, teknis, dsb yang bersifat substantif termasuk mahasiswanya ikut menjadi bagian gerakan. Dinas-dinas terkait ketahanan pangan dan lembaga kesehatan seperti rumah sakit, dinas kesehatan dan rumah sakit TNI menjadi bagian operasional penanganan stunting.

Sambung Prof. Agus, sinergi juga perlu dilakukan dengan mengajak setiap kelurahan, bahkan RW dibuat dapur umum perbaikan nutrisi untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita.

“Dapur umum dikelola oleh ‘tentara masuk desa’  dibimbing tenaga-tenaga kesehatan dari berbagai lembaga, bekatul dijadikan pangan balita dan ibu hamil, serta ibu sedang menyusui, diolah dan disajikan dalam dapur umum,” terang Prof. Agus.

Terakhir, Prof. Agus berharap diskusi ini tidak sebatas hanya diskusi secara seremoni tapi juga ada gerakan implementatif selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *