Sukabumihitz – Nama Sukabumi bagi masyarakat Jawa Barat bukan sekadar identitas geografis, melainkan sebuah warisan sejarah yang memiliki akar mendalam pada masa kolonial. Di balik keasrian kota di kaki Gunung Gede ini, terselip nama Dr. Andries de Wilde, seorang ahli bedah sekaligus tuan tanah asal Belanda yang memahat fondasi awal wilayah ini menjadi pusat ekonomi dan pemukiman yang modern pada masanya.
Dari Ahli Bedah Menjadi Penguasa Tanah Priangan
Lahir di Amsterdam, Andries de Wilde awalnya menginjakkan kaki di Hindia Belanda sebagai asisten ahli bedah. Namun, ambisinya melampaui dunia medis. Pada awal abad ke-19, de Wilde berhasil mengakuisisi lahan luas di wilayah Cikole (nama asli Sukabumi sebelum berganti).
Berbekal kedekatannya dengan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dan kemudian Thomas Stamford Raffles, ia mengubah hutan belantara menjadi perkebunan kopi dan teh yang sangat produktif. Dr. de Wilde bukan sekadar pemilik modal, ia adalah perancang tata ruang yang teliti, yang melihat potensi besar di tanah Priangan Barat.
Baca juga: Gathering Guru BK Digelar di Jampang, Dorong Sinergi Sekolah dan Kampus Unggul
Asal-Usul Nama “Soekaboemi”
Transisi nama dari Cikole menjadi Sukabumi terjadi secara resmi pada 13 Januari 1815. De Wilde memilih nama “Soekaboemi” (dalam ejaan lama) bukan tanpa alasan. Secara etimologi, nama ini merupakan gabungan dari dua kata bahasa Sanskerta:
- Suka: Kesenangan, kebahagiaan, atau kesukaan.
- Bhumi: Tanah atau bumi.
Secara harfiah, Sukabumi berarti “Tempat yang Disukai” atau “Bumi yang Menyenangkan”. De Wilde merasa daerah ini memiliki udara yang sangat sejuk dan tanah yang subur, sehingga menjadikannya tempat tinggal yang ideal sekaligus menguntungkan bagi bisnis perkebunannya. Sejak saat itu, ia secara resmi meminta izin kepada pemerintah kolonial untuk menggunakan nama tersebut dalam surat-surat administratifnya.
Hingga saat ini, masyarakat masih dapat merasakan jejak de Wilde melalui tata kota Sukabumi dengan ciri khas bangunan Indische. Sejarah mencatat de Wilde sebagai pionir yang melihat potensi “bumi yang disukai” ini jauh sebelum daerah lain berkembang.
Mempelajari Andries de Wilde membantu memahami bagaimana identitas kota terbentuk dari persilangan budaya dan ambisi masa lalu. Sukabumi kini masih menyimpan ruh kedamaian yang sang dokter Belanda impikan.














