Sukabumihitz – Mikrosleep menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering terabaikan, padahal dampaknya bisa sangat berbahaya terutama untuk pengendara. Mikrosleep merujuk pada kondisi ketika seseorang tertidur sekejap selama beberapa detik tanpa sadar. Gangguan ini muncul ketika tubuh berada pada kondisi sangat lelah dan kurang tidur, sehingga otak kehilangan fokus dan membuat seseorang seolah “menghilang” sesaat.
Fenomena ini sering muncul secara tiba-tiba. Seseorang tetap membuka mata, namun otaknya berhenti merespons, sehingga tubuh tidak mampu menangkap informasi di sekitar. Pengendara yang mengalami mikrosleep sering tidak menyadari bahwa pikirannya terputus selama beberapa detik sampai akhirnya kehilangan kendali atas kendaraannya. Dalam dunia medis, beberapa detik tersebut cukup untuk menciptakan kecelakaan serius.
Baca juga: Stres Rutinitas Modern dan Era Digital: Strategi Menjaga Kesehatan Mental Tetap Seimbang
Penyebab Utama Mikrosleep
Kurang tidur menjadi pemicu utama mikrosleep. Aktivitas kerja padat, pola tidur tidak teratur, serta penggunaan gadget berlebihan membuat kualitas istirahat turun secara drastis. Tubuh yang terus dipaksa aktif tanpa waktu pemulihan akhirnya memaksa otak mengambil “istirahat mendadak”. Mikrosleep juga muncul pada orang yang menjalani perjalanan jauh, terutama pada malam hari, ketika kondisi tubuh sudah memasuki fase mengantuk alami.
Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Gejala awal mikrosleep sebenarnya cukup mudah dikenali. Kepala mulai terasa berat, mata sulit fokus, dan tubuh kehilangan konsentrasi. Beberapa orang mulai berkedip lebih lama, menguap terus-menerus, atau merasakan sensasi melayang. Jika gejala tersebut muncul pada saat berkendara, risiko kecelakaan meningkat karena tubuh tidak mampu memberikan reaksi cepat terhadap kondisi jalan.
Cara Mencegah Mikrosleep
Untuk mencegah mikrosleep, seseorang perlu menjaga pola tidur yang sehat. Tubuh membutuhkan waktu tidur minimal tujuh sampai delapan jam setiap malam. Setiap perjalanan jauh sebaiknya disertai waktu istirahat berkala setiap dua jam. Jika rasa kantuk muncul, berhenti sejenak dan tidur singkat selama 10–15 menit dapat membantu memulihkan fokus. Konsumsi kafein, membuka jendela, atau berbicara dengan teman hanya memberikan efek sementara dan tidak menggantikan istirahat sebenarnya.
Mikrosleep bukan sekadar rasa kantuk biasa. Gangguan ini menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan pemulihan. Dengan memahami gejalanya lebih awal, seseorang dapat mencegah risiko besar yang mungkin muncul. Disiplin menjaga tidur, membatasi aktivitas berlebihan, dan memberi ruang untuk istirahat menjadi langkah utama untuk menjaga keselamatan serta menjaga tubuh tetap sehat.














