Hambatan Teknis dan Komunikasi
Selain faktor internal, kendala eksternal dan teknis juga memegang peranan, meski tidak sedominan faktor digital. Sebanyak 20,0% mahasiswa mengaku tertunda karena “Menunggu Dosen Balas WA”, dan 15,0% lainnya merasa “Mager” (malas gerak) mengatur referensi.
Poin mengenai dosen ini menarik untuk dikritisi. Komunikasi yang tidak lancar antara pembimbing dan mahasiswa memang kerap menjadi bottleneck. Namun, di sisi lain mahasiswa sering menjadikan hal ini sebagai kambing hitam untuk berhenti bekerja secara total. Padahal, sembari menunggu balasan, mahasiswa bisa mengerjakan bagian lain seperti merapikan sitasi atau memperkaya tinjauan pustaka.

Terkait manajemen referensi, keengganan tersebut menjadi ironi di tengah melimpahnya perangkat lunak pengelola referensi otomatis seperti Mendeley dan Zotero. Persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan alat, melainkan pada rendahnya literasi digital dalam memanfaatkan tools penunjang riset secara efisien.
Mengubah Pola Pikir: Dari Menunggu Menjadi Menjemput
Menulis jurnal ilmiah bukan soal menunggu inspirasi turun dari langit, melainkan tentang membangun sistem kerja yang tahan banting. Berdasarkan hal tersebut kunci untuk mematahkan siklus ini adalah strategi yang terukur, mulai dari membuat kerangka tulisan (outline), menetapkan target harian kecil, hingga keberanian untuk melakukan follow-up ke dosen secara sopan.
Mahasiswa perlu menyadari bahwa prokrastinasi bukan sekadar masalah manajemen waktu, melainkan manajemen emosi. Mengalahkan godaan scroll layar gawai dan membuang mentalitas “menunggu mood” adalah langkah awal mutlak. Tanpa kesadaran ini, tumpukan draf jurnal hanya akan menjadi wacana, terkubur di bawah tumpukan notifikasi media sosial yang tak ada habisnya.














