Opini

Prokrastinasi Digital dan Ilusi ‘Menunggu Mood’: Mengupas Hambatan Mahasiswa dalam Penulisan Jurnal Ilmiah

5
×

Prokrastinasi Digital dan Ilusi ‘Menunggu Mood’: Mengupas Hambatan Mahasiswa dalam Penulisan Jurnal Ilmiah

Sebarkan artikel ini
Penulisan Jurnal Ilmiah
Hambatan penulisan jurnal ilmiah bagi mahasiswa | Sumber : gemini.ai

Sukabumihitz – Dalam dunia akademik, kewajiban mempublikasikan jurnal ilmiah sering kali menjadi momok yang lebih menakutkan daripada ujian akhir itu sendiri. Fenomena “naskah abadi” yang tak kunjung selesai bukan lagi rahasia umum di kalangan mahasiswa tingkat akhir maupun dosen muda. Namun, apa sebenarnya akar masalah yang membuat kursor di layar komputer hanya berkedip tanpa melahirkan satu paragraf pun?

Infografis menarik dari Literasi Sains Indonesia baru-baru ini menyingkap tabir di balik penundaan ini. Data tersebut bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata dari pergeseran perilaku akademik di era disrupsi digital saat ini. Mari kita bedah satu per satu mengapa prokrastinasi akademik kini bermetamorfosis menjadi tantangan yang lebih kompleks.

Jebakan “Scroll” dan Ekonomi Perhatian

Data menunjukkan penyebab terbesar mandeknya penulisan jurnal sebesar 30,0 persen berasal dari aktivitas scrolling pada platform media sosial seperti TikTok. Ini adalah fakta yang mengkhawatirkan namun sangat masuk akal.

Kita hidup dalam ekonomi perhatian (attention economy), di mana fokus manusia menjadi komoditas paling mahal. Algoritma media sosial memberi gratifikasi instan atau lonjakan dopamin cepat. Bandingkan dengan menulis jurnal ilmiah yang membutuhkan deep work, ketekunan, dan gratifikasi yang tertunda (delayed gratification). Otak mahasiswa yang terbiasa dengan rangsangan visual cepat berdurasi 15 detik akan merasa “tersiksa” ketika harus membaca literatur yang padat dan menulis analisis yang mendalam. Akibatnya, niat “istirahat sebentar buka HP” sering kali bermutasi menjadi dua jam yang hilang tanpa jejak.

Mitos “Mood” dan Perfeksionisme

Alasan kedua terbesar berasal dari faktor psikologis klasik yaitu “Menunggu Mood” yang menempati porsi 25,0%, lalu perasaan “Belum Siap Mental” sebesar 10,0%. Sehingga hasil akhir menunjukan bahwa 35% hambatan berasal dari internal diri mahasiswa itu sendiri.

Dalam psikologi produktivitas, menunggu mood atau inspirasi sering kali merupakan bentuk lain dari perfeksionisme yang melumpuhkan. Mahasiswa sering terjebak dalam ilusi bahwa menulis harus berlangsung dalam kondisi sempurna pikiran tenang, referensi lengkap dan kalimat langsung puitis. Padahal, penulisan ilmiah adalah proses mekanis yang membutuhkan disiplin. Ketidaksiapan mental sering muncul karena mahasiswa memandang jurnal sebagai “gunung raksasa” yang harus mereka daki sekaligus, bukan sebagai “serangkaian bukit kecil” yang bisa mereka taklukkan secara bertahap.

Baca Juga : 5 Kesalahan Fatal dalam Pengajuan Jurnal Ilmiah dan Tips Menghindarinya