Sukabumihitz – Dalam dunia akademik, kewajiban mempublikasikan jurnal ilmiah sering kali menjadi momok yang lebih menakutkan daripada ujian akhir itu sendiri. Fenomena “naskah abadi” yang tak kunjung selesai bukan lagi rahasia umum di kalangan mahasiswa tingkat akhir maupun dosen muda. Namun, apa sebenarnya akar masalah yang membuat kursor di layar komputer hanya berkedip tanpa melahirkan satu paragraf pun?
Jebakan “Scroll” dan Ekonomi Perhatian
Kita hidup dalam ekonomi perhatian (attention economy), di mana fokus manusia menjadi komoditas paling mahal. Algoritma media sosial memberi gratifikasi instan atau lonjakan dopamin cepat. Bandingkan dengan menulis jurnal ilmiah yang membutuhkan deep work, ketekunan, dan gratifikasi yang tertunda (delayed gratification). Otak mahasiswa yang terbiasa dengan rangsangan visual cepat berdurasi 15 detik akan merasa “tersiksa” ketika harus membaca literatur yang padat dan menulis analisis yang mendalam. Akibatnya, niat “istirahat sebentar buka HP” sering kali bermutasi menjadi dua jam yang hilang tanpa jejak.
Mitos “Mood” dan Perfeksionisme
Alasan kedua terbesar berasal dari faktor psikologis klasik yaitu “Menunggu Mood” yang menempati porsi 25,0%, lalu perasaan “Belum Siap Mental” sebesar 10,0%. Sehingga hasil akhir menunjukan bahwa 35% hambatan berasal dari internal diri mahasiswa itu sendiri.
Dalam psikologi produktivitas, menunggu mood atau inspirasi sering kali merupakan bentuk lain dari perfeksionisme yang melumpuhkan. Mahasiswa sering terjebak dalam ilusi bahwa menulis harus berlangsung dalam kondisi sempurna pikiran tenang, referensi lengkap dan kalimat langsung puitis. Padahal, penulisan ilmiah adalah proses mekanis yang membutuhkan disiplin. Ketidaksiapan mental sering muncul karena mahasiswa memandang jurnal sebagai “gunung raksasa” yang harus mereka daki sekaligus, bukan sebagai “serangkaian bukit kecil” yang bisa mereka taklukkan secara bertahap.
Baca Juga : 5 Kesalahan Fatal dalam Pengajuan Jurnal Ilmiah dan Tips Menghindarinya














