Menjaga Tradisi Lintas Generasi, Kuda Lumping Putra Amarta Tetap Eksis di Desa Pangumbahan
- account_circle Anita Rahmawati
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kuda Lumping Putra Amarta, Tradisi 14 Tahun yang Terus Dijaga Warga Desa Pangumbahan | Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Sukabumi – Kesenian tradisional Kuda Lumping masih hidup di Desa Pangumbahan, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Masyarakat setempat terus menjaga kesenian tersebut melalui Sanggar Putra Amarta yang telah berdiri selama 14 tahun.
Menariknya, sanggar tersebut melibatkan anggota dari berbagai kelompok usia. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut bergabung dan mempelajari Kuda Lumping. Para anggota juga rutin berlatih setiap malam Sabtu untuk menjaga kemampuan dan kekompakan sebelum tampil.
Sanggar Putra Amarta Jaga Tradisi Selama 14 Tahun
Selama 14 tahun, Sanggar Putra Amarta terus memperkenalkan Kuda Lumping melalui berbagai pertunjukan. Masyarakat kerap mengundang sanggar tersebut untuk mengisi acara hajatan, sunatan, pernikahan, kenaikan kelas, hingga kegiatan lainnya.
Tidak hanya tampil di sekitar Desa Pangumbahan, Sanggar Putra Amarta juga pernah membawa pertunjukan ke luar kota. Bandung menjadi salah satu daerah yang pernah menjadi lokasi penampilan sanggar tersebut.
Bahkan, Sanggar Putra Amarta sudah beberapa kali mendapat kesempatan tampil di Bandung. Untuk tarif pertunjukan, pengelola menyesuaikannya dengan jarak lokasi acara dan kebutuhan pementasan.
Kuda Lumping Hadirkan Tarian dan Beragam Atraksi
Kuda Lumping merupakan kesenian tari yang menggunakan properti berbentuk kuda. Para pemain biasanya menggunakan kuda tiruan dari anyaman bambu yang mereka hias dengan warna dan ornamen tertentu.
Di Desa Pangumbahan, Sanggar Putra Amarta menghadirkan Kuda Lumping dengan rangkaian pertunjukan yang cukup beragam. Para pemain tidak hanya menampilkan gerakan tari menggunakan kuda anyaman, tetapi juga menghadirkan sejumlah atraksi.

Atraksi kuda lumping Sanggar Putra Amarta | Doc. Istimewa
Dalam pertunjukan tertentu, penonton dapat menyaksikan atraksi kesurupan, memakan padi, serta mencium atau menghidupkan menyan. Setelah tarian Kuda Lumping selesai, para pemain juga mengenakan kostum bertopeng untuk melanjutkan rangkaian pertunjukan.
Selain itu, sanggar menghadirkan adegan ngabodor atau melucu. Bagian tersebut memberikan suasana yang lebih menghibur dan membuat penonton menikmati pertunjukan dari awal hingga akhir.
Berbagai Alat Musik Tradisional Iringi Pertunjukan
Pertunjukan Kuda Lumping tidak hanya mengandalkan gerakan para pemain. Musik tradisional juga menjadi bagian penting untuk membangun suasana selama pementasan.
Sanggar Putra Amarta menggunakan bonang, kendang, saron dan gong sebagai alat musik pengiring. Sinden juga melengkapi pertunjukan melalui lantunan vokal yang mengikuti irama musik.
Perpaduan antara tarian, musik, atraksi, dan kostum membuat pertunjukan Kuda Lumping memiliki karakter tersendiri. Setiap sanggar juga memiliki ciri khas masing-masing, termasuk dalam penggunaan kostum.
Dua Kostum Sesuaikan Waktu Pentas
Sanggar Putra Amarta menyiapkan dua jenis kostum untuk mendukung penampilan para pemain. Pengelola membedakan kostum berdasarkan waktu pelaksanaan pertunjukan.
Para pemain menggunakan kostum khusus untuk penampilan pada pagi atau siang hari. Sementara itu, sanggar menyiapkan kostum berbeda untuk pertunjukan pada malam hari.
Perbedaan kostum tersebut menjadi salah satu bagian dari persiapan sebelum pertunjukan. Dengan demikian, penampilan para pemain dapat menyesuaikan suasana dan waktu pementasan.
Latihan Rutin Jadi Cara Jaga Kuda Lumping
Selain aktif tampil, Sanggar Putra Amarta rutin mengadakan latihan setiap malam Sabtu. Para anggota memanfaatkan latihan tersebut untuk mengasah gerakan, mempersiapkan rangkaian atraksi, serta menjaga kekompakan kelompok.
Kegiatan latihan juga mempertemukan anggota dari berbagai usia. Anak-anak dan remaja dapat mempelajari kesenian dari anggota yang lebih senior. Sementara itu, anggota yang lebih tua dapat berbagi pengalaman dan keterampilan kepada generasi yang lebih muda.
Keterlibatan lintas generasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan Kuda Lumping di Desa Pangumbahan. Para anggota tidak hanya berlatih untuk menghadapi pertunjukan, tetapi juga ikut menjaga kesenian tradisional agar tetap memiliki penerus.
Selama 14 tahun, Sanggar Putra Amarta telah membawa Kuda Lumping ke berbagai acara masyarakat, bahkan hingga ke luar kota. Konsistensi latihan dan keterlibatan berbagai kelompok usia menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat Desa Pangumbahan.
Melalui latihan rutin dan berbagai pertunjukan, Sanggar Putra Amarta terus menjaga Kuda Lumping sebagai bagian dari kesenian yang hidup di Desa Pangumbahan. Tradisi tersebut pun memiliki peluang untuk terus berkembang bersama generasi muda yang ikut mempelajarinya.
- Penulis: Anita Rahmawati
