Sukabumihitz – Media sosial kini tidak hanya menjadi tempat berbagi aktivitas sehari-hari, tetapi juga berubah menjadi ruang untuk menunjukkan gaya hidup. Banyak pengguna mengunggah foto liburan mewah, barang bermerek, kendaraan mahal, hingga gaya hidup eksklusif demi menarik perhatian publik. Fenomena ini populer dengan istilah flexing.
Tren flexing semakin populer di kalangan generasi muda karena media sosial menghadirkan budaya validasi. Jumlah likes, komentar, dan followers sering kali memengaruhi rasa percaya diri seseorang. Tidak sedikit anak muda berlomba tampil sempurna agar mendapat pengakuan dari lingkungan digital mereka.
Baca Juga: Budaya Literasi Bantu Tingkatkan Kualitas Belajar Siswa
Flexing Mendorong Gaya Hidup Konsumtif

Konten pamer kemewahan secara perlahan memengaruhi pola pikir generasi muda. Banyak orang mulai membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan demi mengikuti tren dan menjaga citra di media sosial. Kondisi ini mendorong gaya hidup konsumtif yang sulit terkontrol.
Sebagian anak muda bahkan rela menghabiskan tabungan atau menggunakan layanan paylater hanya untuk terlihat “setara” dengan orang lain di internet. Survei Populix pada 2025 menunjukkan bahwa penggunaan layanan paylater di kalangan usia muda terus meningkat seiring tingginya aktivitas belanja online dan pengaruh tren digital.
Selain masalah keuangan, flexing juga memicu tekanan sosial. Banyak pengguna media sosial merasa tertinggal ketika melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses dan mewah. Perasaan tersebut sering memunculkan insecure, cemas, hingga takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).
Kehidupan Digital Tidak Selalu Sama dengan Realita
Tidak semua yang tampil di media sosial mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak kreator konten hanya memperlihatkan sisi terbaik hidup mereka dan menyembunyikan proses maupun kesulitan yang mereka alami. Namun, sebagian pengguna justru menjadikan konten tersebut sebagai standar kehidupan ideal.
Psikolog klinis sering mengingatkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, terutama jika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa nilai diri tidak bergantung pada kemewahan, popularitas, atau pengakuan di internet.
Baca Juga: Self Motivation Jadi Kunci di Tengah Tekanan Tanpa Support System
Bijak Menggunakan Media Sosial

Generasi muda tetap bisa menikmati media sosial tanpa terjebak budaya flexing. Pengguna perlu lebih kritis saat melihat konten digital dan fokus pada kebutuhan nyata, bukan sekadar pencitraan. Selain itu, membangun rasa percaya diri dan kemampuan mengatur keuangan juga menjadi langkah penting agar tidak mudah terbawa tekanan sosial.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berkembang, berbagi inspirasi, dan membangun koneksi positif, bukan tempat berlomba menunjukkan siapa yang paling mewah.














