Sukabumihitz – Tibanya bulan Dzulhijjah, aktivitas ekonomi di sektor peternakan mulai menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Permintaan masyarakat terhadap hewan kurban, baik sapi, kambing, maupun domba, mulai melonjak tajam di berbagai wilayah Indonesia. Fenomena tahunan ini memicu para peternak lokal dan pedagang musiman untuk mempercepat persiapan pasokan guna memenuhi kebutuhan pasar yang terus meroket.
Kenaikan orderan yang terjadi jauh-jauh hari sebelum Hari Raya Idul Adha mengindikasikan tingginya kesadaran beribadah sekaligus membaiknya daya beli masyarakat. Selain itu, strategi konsumen yang memesan hewan lebih awal ternilai lebih menguntungkan karena harga cenderung masih stabil sebelum mencapai puncak kenaikan pada H-7 lebaran kurban.
Baca juga: Menggali Hikmah Ibadah Kurban: Lebih dari Sekadar Menyembelih Hewan
Lonjakan Pesanan dan Preferensi Konsumen
Sejumlah peternak mengonfirmasi bahwa pesanan dari lembaga filantropi, pengurus masjid (DKM), Dewan Masjid Indonesia (DMI), komunitas, hingga perorangan sudah mengalir sejak beberapa pekan terakhir. Untuk wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, masyarakat paling banyak memburu hewan kurban jenis domba priangan dan sapi simmental karena kualitas dagingnya yang prima.
Kondisi ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi para peternak lokal. Setelah merawat hewan ternak selama berbulan-bulan, momentum menjelang Dzulhijjah menjadi puncak panen keuntungan mereka. Guna menarik minat pembeli, banyak pedagang kini menawarkan gratis biaya perawatan dan pengiriman hingga hari pemotongan tiba. Layanan tambahan tersebut juga menarik minat konsumen perkotaan.
Pengawasan Ketat Terhadap Kesehatan Hewan
Tren Belanja Kurban Bergeser ke Sektor Digital
Selain pasar fisik konvensional, lonjakan permintaan hewan kurban pada bulan Dzulhijjah kali ini juga terasa kuat di ranah digital. Banyak masyarakat terutama generasi muda dan pekerja urban yang memilih memanfaatkan platform online atau lembaga amil zakat untuk menyalurkan kurbannya.
Pergeseran tren ini turut membantu para peternak di pelosok daerah. Melalui program kemitraan dengan penyedia layanan kurban digital, hewan ternak dari desa-desa terpencil dapat terserap langsung oleh pasar perkotaan dengan harga yang adil, tanpa harus melewati rantai tengkulak yang panjang. Siklus ini tidak hanya mempermudah konsumen, tetapi juga mendorong pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan peternak kecil di berbagai daerah penunjang.














