Sukabumihitz – Suasana haru menyelimuti rumah duka almarhumah Gita Septia Wardani pada Kamis (30/4) sore. Rasa kehilangan yang mendalam terasa di tengah keluarga dan kerabat. Rombongan dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang dipimpin Dwi Astuti turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mahasiswi berprestasi tersebut.
Gita merupakan mahasiswa semester enam Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI kampus Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. Ia memiliki cita-cita besar menjadi reporter. Namun, kecelakaan tragis di lintasan kereta pada Senin (27/4) di Stasiun Bekasi Timur mengakhiri perjalanan hidupnya. Meski peristiwa ini meninggalkan duka, kisah hidup Gita menghadirkan makna yang mendalam.
Baca Juga: Bekasi Timur Tabrakan KA, 15 Tewas dan Puluhan Terluka
Pesan Terakhir yang Mengharukan
Sang ayah masih mengingat jelas momen pukul 10.30 pagi saat ia mengantar Gita berangkat belajar. Ia dikenal mandiri dan bersemangat mengejar cita-citanya sebagai jurnalis. Ia memilih kampus UBSI Pemuda karena akses transportasi yang mudah dengan kereta dan JakLingko.
Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, Gita mengirim pesan kepada ayahnya. Ia memberi kabar bahwa keretanya tertahan di Stasiun Bekasi Timur akibat insiden tabrakan. Dalam pesan itu, ia menulis, “Yah, jemputnya santai saja.” Kalimat sederhana tersebut menjadi komunikasi terakhir mereka.
Setelah itu, keluarga mencoba menghubungi Gita, namun tidak mendapat jawaban. Rasa khawatir pun perlahan berubah menjadi firasat buruk.
Pencarian yang Penuh Harapan
Hingga dini hari, Gita belum pulang. Keluarga kemudian mencari ke berbagai lokasi, mulai dari stasiun hingga terminal. Di tengah hujan deras saat subuh, sang ayah mendatangi sejumlah rumah sakit seperti RS Plumbon, Siloam, Mitra Keluarga, hingga RSUD Kota Bekasi, tetapi belum menemukan hasil.
Harapan muncul saat petugas menemukan tas milik Gita di pos informasi. Tas tersebut berisi identitas dan barang pribadinya. Petunjuk ini mengarahkan sang ayah ke RS Polri Kramat Jati. Di tempat itu, ia akhirnya mengenali putrinya melalui ciri-ciri fisik yang sangat ia kenal.
Kenangan dan Penghormatan Terakhir
Sebagai bentuk penghormatan, pihak UBSI mengembalikan seluruh biaya kuliah yang telah keluarga bayarkan sejak semester awal hingga semester enam.
“Kami ingin meringankan beban keluarga. Semua berkas kami bantu urus agar pihak keluarga tidak perlu lagi repot datang ke kampus,” ujar Dwi Astuti.
Meski Gita belum sempat meraih mimpinya menjadi reporter profesional, kisah hidupnya tetap menghadirkan pelajaran tentang ketulusan, perjuangan, dan bakti kepada orang tua.














