Sukabumihitz – Media sosial mengubah cara orang memandang dan menikmati kuliner. Kini, sebuah makanan tidak harus istimewa dari segi rasa untuk menarik perhatian. Sensasi visual, cerita unik, dan reaksi berlebihan sering kali cukup untuk membuat satu menu melesat menjadi viral.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner telah bergeser dari kebutuhan dasar menjadi bagian dari gaya hidup dan konsumsi digital. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga untuk merasakan pengalaman yang bisa dibagikan.
Ketika Sensasi Menjadi Daya Tarik Utama
Banyak kuliner viral mengandalkan sensasi sebagai senjata utama. Pelaku usaha sengaja menciptakan tampilan mencolok agar mudah menarik perhatian kamera. Mereka memaksimalkan keju leleh, level pedas ekstrem, atau konsep harga tidak masuk akal untuk memicu perbincangan.
Strategi ini efektif untuk menarik arus awal konsumen. Antrean panjang sering muncul bukan karena kualitas rasa, tetapi karena rasa takut tertinggal tren. Konsumen datang dengan ekspektasi tinggi, terbentuk dari narasi berlebihan yang beredar di media sosial.

Masalah muncul ketika rasa tidak mampu mengejar sensasi. Banyak pelanggan pulang dengan rasa kecewa karena menemukan kualitas biasa saja. Harga terasa tidak sepadan, porsi tidak istimewa, dan pelayanan kurang optimal. Hype yang semula kuat perlahan melemah karena pengalaman nyata tidak sesuai bayangan.
Baca Juga: Dubai Chewy Mochi: Dessert Viral dengan Perpaduan Tekstur Unik
Fenomena ini menunjukkan bahwa viralitas kerap menciptakan ilusi kualitas. Sensasi membangun rasa penasaran, tetapi lidah tetap menjadi penentu akhir.
Viralitas, Peluang, dan Tantangan
Bagi pelaku usaha, viralitas membuka peluang besar. UMKM kuliner dapat menjangkau pasar luas tanpa biaya promosi tinggi. Konten kreatif dan momentum tepat mampu mengangkat usaha kecil ke tingkat yang lebih tinggi.
Namun, viralitas juga menghadirkan tantangan. Usaha yang hanya mengandalkan sensasi akan kehilangan pelanggan ketika tren mereda. Sebaliknya, pelaku usaha yang menjaga kualitas rasa, konsistensi produk, dan pelayanan memiliki peluang bertahan lebih lama.
Fenomena kuliner viral akhirnya menuntut keseimbangan. Sensasi dapat menarik perhatian, tetapi rasa dan kualitas menjaga kepercayaan. Viral boleh datang dan pergi, namun pengalaman makan yang jujur akan selalu menemukan tempat di lidah konsumen.














