Dalam sesi wawancara, Sumarni berbagi kisah perjalanan usahanya. Ia memulai produksi enye pada tahun 2009, berawal dari keprihatinan melihat banyak singkong yang belum termanfaatkan dengan baik. Ia ingin menciptakan peluang usaha sekaligus membuka lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya. Usaha yang awalnya dikelola seorang diri kini tumbuh hingga melibatkan tiga karyawan.
“Lima tahun terakhir terasa paling berat, terutama saat pandemi. Namun alhamdulillah, sekarang usaha kembali lancar,” tuturnya. Tantangan terbesar menurutnya muncul ketika cuaca hujan berkepanjangan karena proses penjemuran ikut terhambat.
Sumarni juga menegaskan bahwa enye buatannya kini sudah menjangkau pembeli dari luar daerah dan sering menjadi pilihan oleh-oleh. Ia menitipkan pesan untuk generasi muda,
“Terus semangat. Jangan takut rugi ketika memulai usaha. Coba terus dan manfaatkan potensi sekitar kita.” tegas Sumarni.

Kegiatan PKM ini memberikan pengalaman berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar memahami proses produksi kuliner tradisional, tetapi juga mempelajari strategi mempertahankan usaha di tengah perubahan zaman. Mahasiswa melihat bahwa enye memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya yang penting untuk dijaga.
Mahasiswa bersama mitra usaha mengevaluasi peluang pengembangan dari sisi produksi, kualitas produk, pengemasan hingga strategi pemasaran. Mereka mendorong penggunaan kemasan modern, promosi digital, dan eksplorasi varian rasa untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa meninggalkan ciri khas tradisional.
Melalui program ini, mahasiswa UBSI Sukabumi mempertegas komitmen untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa serta melestarikan warisan kuliner khas daerah yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Baca juga: Lawan Bullying dan Junjung HAM: Semangat Positif dari SMPN 1 Gunungguruh Sukabumi














