Ruyatna, salah satu warga terdampak, menyaksikan langsung derasnya dampak abrasi sungai. Air sungai sebelumnya menghanyutkan fasilitas toilet dan kandang ternak miliknya. Ia menegaskan bahwa pembangunan TPT tidak mempersempit aliran sungai karena warga membangun tanggul di atas tanah milik sendiri.
“Warga membangun di lahan sekitar tanggul, bukan menutup sungai. Tujuannya murni melindungi aset dan pemukiman,” jelas Ruyatna.
Camat Simpenan, Supendi, mengakui keterlambatan respons pemerintah akibat proses penganggaran daerah yang panjang. Ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat yang memilih bertindak demi keselamatan bersama.
“Kalau menunggu anggaran, prosesnya memang lama. Karena itu kami mendukung inisiatif masyarakat dan mengucapkan terima kasih,” katanya.
Melindungi Akses Vital Menuju Geopark Ciletuh
Tolak bersikap pasif, upaya warga turut menjaga jembatan milik pemerintah provinsi yang menjadi akses utama menuju kawasan wisata Geopark Ciletuh. Abrasi Sungai Ciseureuh berpotensi merusak fondasi jembatan serta mengganggu jalur transportasi dan pariwisata Sukabumi.
Melalui aksi nyata ini, masyarakat Desa Sangrawayang membuktikan bahwa gotong royong mampu menjadi benteng terakhir ketika prosedur birokrasi menghambat penanganan darurat. Warga berharap pemerintah tidak hanya meninjau lokasi, tetapi juga memberikan perhatian berkelanjutan terhadap keselamatan masyarakat dan infrastruktur vital daerah.














