Berita

Ketika Museum Tekstil Jakarta Bisa “Dirasakan” oleh Komunitas Tunanetra

8
×

Ketika Museum Tekstil Jakarta Bisa “Dirasakan” oleh Komunitas Tunanetra

Sebarkan artikel ini
Dari Sentuhan ke Imajinasi, Sentuhan Urna Wujudkan Museum Inklusif di Jakarta | Doc. Istimewa
Dari Sentuhan ke Imajinasi, Sentuhan Urna Wujudkan Museum Inklusif di Jakarta | Doc. Istimewa

Sukabumihitz.comMuseum Tekstil Jakarta menghadirkan pengalaman museum yang ramah disabilitas melalui program Sentuhan Urna pada Sabtu (7/2). Peserta LPDP PK-270 menggagas kegiatan ini sejak pukul 09.00 hingga 14.00 WIB dan melibatkan penyandang disabilitas netra dari berbagai komunitas.

Program ini bertujuan membuka akses budaya secara lebih merata. Panitia merancang seluruh rangkaian kegiatan dengan pendekatan partisipatif, mulai dari lokakarya hingga tur museum berbasis multisensori. Melalui konsep tersebut, peserta dapat mengenal koleksi museum tanpa mengandalkan kemampuan visual.

Workshop Batik Inklusif Berbasis Sentuhan

Kegiatan berawal dengan workshop batik inklusif yang memperkenalkan teknik batik timbul. Dalam sesi ini, peserta menggunakan media taktil serta panduan audio untuk memahami proses membatik. Mereka diajak meraba tekstur kain, menyusun pola, hingga mengenal proses pewarnaan dengan pendampingan fasilitator.

Metode ini tidak hanya bertujuan mengenalkan warisan budaya, tetapi juga mendorong kreativitas peserta serta membuka peluang pengembangan keterampilan di sektor ekonomi kreatif.

Baca juga: Next Level Innovation: Seminar Bisnis “From Zero to CEO” Siap Cetak Entrepreneur Muda Sukabumi

Tur Museum dengan Pendekatan Multisensori

Usai workshop, peserta mengikuti tur museum yang dirancang secara multisensori. Mulai dari area taman pewarna alam hingga ruang koleksi wastra Nusantara. Pemandu menyampaikan informasi melalui narasi audio dan interaksi langsung, sehingga peserta dapat memahami material, fungsi, serta nilai budaya dari setiap koleksi.

Pendekatan ini memungkinkan peserta membangun imajinasi dan pemahaman budaya melalui indera selain penglihatan.

Peserta melakukan eksplorasi tekstur kain, menyusun pola, serta mempelajari tahapan pewarnaan dengan bimbingan fasilitator | Doc. Istimewa
Peserta melakukan eksplorasi tekstur kain, menyusun pola, serta mempelajari tahapan pewarnaan dengan bimbingan fasilitator | Doc. Istimewa

Museum sebagai Ruang Belajar yang Setara

Ketua Divisi Social Project Sentuhan Urna, Diajeng Widyannisa, menegaskan museum harus bersifat inklusif bagi semua kalangan. Ia menyebut museum tidak hanya menjadi tempat pameran, tetapi juga ruang belajar bersama yang terbuka untuk semua.

“Museum bukan hanya ruang pamer, tetapi juga ruang belajar bersama. Kami ingin museum dapat diakses secara setara oleh komunitas tunanetra,” Ujarnya di sela kegiatan.

Evaluasi dan Harapan Pengembangan Program

Selain rangkaian kegiatan utama, panitia juga menggelar forum diskusi singkat untuk menampung pengalaman serta masukan peserta terkait aksesibilitas museum. Seluruh catatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program serupa di masa mendatang.

Melalui forum diskusi singkat, panitia menghimpun berbagai pengalaman dan masukan dari peserta | Doc. Istimewa
Melalui forum diskusi singkat, panitia menghimpun berbagai pengalaman dan masukan dari peserta | Doc. Istimewa

Program Sentuhan Urna merupakan hasil kolaborasi LPDP PK-270, Museum Tekstil Jakarta, Persatuan Tunanetra Indonesia (PERTUNI), serta Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS). Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap dapat memperluas penerapan konsep museum inklusif di berbagai daerah agar penyandang disabilitas lebih mudah mengakses budaya.

Baca juga: Kejuaraan Akuntansi BSI Flash 2026 Sukabumi: Wadah Siswa Tunjukkan Kemampuan Praktik Excel dan Akuntansi