Kemerdekaan, Pendidikan dan Realitas yang Tertinggal
- account_circle Andi Riyanto (Dosen dan Anggota Serikat Pekerja Kampus)
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kemerdekaan, Pendidikan dan Realitas yang Tertinggal | Sumber : Gemini.AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mengukur Keberhasilan Kebijakan dari Dampaknya
Dalam konteks tersebut, masyarakat tidak perlu mempertentangkan kebijakan MBG, KDMP, dan kesejahteraan pendidik secara sederhana. Pemerintah tidak perlu menghentikan MBG hanya karena program tersebut memiliki anggaran besar. Masyarakat juga tidak perlu menolak KDMP hanya karena pemerintah menetapkannya sebagai program prioritas. Kritik seharusnya berfokus pada proporsi kebijakan, desain program, tata kelola, dan ukuran keberhasilannya. Pemerintah perlu menilai MBG melalui dampaknya terhadap status gizi, kehadiran, kesehatan, dan hasil belajar. Pemerintah juga perlu mengukur keberhasilan koperasi melalui peningkatan kesejahteraan anggota dan keberlanjutan usaha. Sementara itu, pemerintah perlu menilai kebijakan pendidikan berdasarkan kualitas sekolah, kompetensi guru, produktivitas perguruan tinggi, mutu penelitian, serta kesejahteraan pendidik.
Masalah muncul ketika politik pembangunan terlalu menekankan indikator yang mudah dihitung. Pemerintah dapat mencatat porsi MBG setiap hari, melaporkan perkembangan koperasi secara berkala, dan memasukkan pembangunan fasilitas ke dalam laporan kinerja. Namun, angka-angka tersebut belum cukup untuk menunjukkan dampak nyata dari setiap kebijakan. Sementara hasil pendidikan jauh lebih sulit diukur dalam jangka pendek. Dampak seorang guru yang baik terhadap kehidupan peserta didik baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Dampak riset perguruan tinggi juga sering membutuhkan waktu panjang sebelum menjadi inovasi atau kebijakan publik. Akibatnya, pendidikan memiliki risiko kalah dalam kompetisi perhatian politik karena hasilnya tidak selalu dapat ditampilkan secara cepat.
Kondisi tersebut perlu dikoreksi. Pemerintah membutuhkan perspektif pembangunan yang lebih seimbang antara program jangka pendek yang menghasilkan manfaat langsung dan investasi jangka panjang yang memperkuat kapasitas masyarakat. Pemenuhan gizi penting tetapi perbaikan kualitas pembelajaran juga penting. Pembentukan koperasi penting tetapi kualitas tata kelola dan keberlanjutan usaha lebih penting daripada jumlah kelembagaan. Pemerintah juga tidak boleh menempatkan peningkatan kesejahteraan pendidik sebagai isu sekunder karena kualitas pendidik sangat menentukan kualitas sumber daya manusia.
Memaknai Kemerdekaan melalui Pembangunan Manusia
Menjelang peringatan kemerdekaan ke-81, refleksi terhadap isu ini menjadi semakin relevan. Pembukaan UUD 1945 secara tegas mencantumkan tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Frasa tersebut tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap sekolah tetapi juga dengan kemampuan negara menyediakan pendidikan yang bermutu. Pendidikan bermutu membutuhkan peserta didik yang sehat, pendidik yang kompeten, fasilitas yang memadai, sistem yang efisien dan kebijakan yang berkelanjutan. Salah satu unsur tidak dapat menggantikan unsur lainnya.
Kemerdekaan pada abad ke-21 juga menghadapi tantangan yang berbeda dari masa awal republik. Persaingan antar negara semakin ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, kualitas riset, inovasi serta kemampuan sumber daya manusia. Negara yang memiliki kapasitas pendidikan dan riset kuat memiliki posisi lebih baik dalam menentukan arah pembangunan sendiri. Sebaliknya, negara yang lemah dalam pendidikan akan bergantung pada teknologi, pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan negara lain. Dalam konteks tersebut, kesejahteraan guru dan dosen bukan sekadar persoalan sosial. Kesejahteraan pendidik berkaitan langsung dengan kemandirian bangsa.
Mengukur Keberhasilan Pembangunan dari Dampak
Indonesia sudah berada pada usia yang cukup matang untuk mulai menggeser ukuran keberhasilan pembangunan dari kuantitas program menuju kualitas dampak. Anggaran besar tidak menjamin kualitas sebuah kebijakan. Pemerintah juga tidak cukup membentuk banyak lembaga untuk menghasilkan manfaat ekonomi. Setiap program yang pemerintah luncurkan perlu melalui evaluasi berdasarkan hasil dan dampak nyata bagi masyarakat. Pemerintah juga perlu terus memperbaiki MBG dengan mengacu pada data dan hasil evaluasi ilmiah. Untuk KDMP, pemerintah perlu memastikan koperasi memiliki fondasi ekonomi yang kuat agar tidak sekadar memenuhi target administratif. Pada saat yang sama, pemerintah perlu menempatkan kesejahteraan pendidik sebagai salah satu prioritas utama dalam pembangunan manusia.
Pemerintah tidak perlu mengalihkan seluruh sumber daya kepada guru dan dosen untuk menjadikan kesejahteraan pendidik sebagai prioritas. Pemerintah perlu menjaga keseimbangan dalam menetapkan kebijakan.Pemerintah dapat menyusun peta jalan kesejahteraan pendidik yang lebih jelas, termasuk standar penghasilan yang layak, perlindungan sosial, peningkatan kompetensi, pengurangan beban administratif yang tidak relevan serta sistem karier yang lebih transparan. Perguruan tinggi juga perlu memperkuat dukungan bagi dosen melalui peningkatan pendanaan penelitian, pengembangan kompetensi, serta sistem penghargaan yang tidak hanya mengandalkan jumlah publikasi.
Kemerdekaan dan Arah Pembangunan Indonesia
Pada saat yang sama, pemerintah perlu membuka evaluasi terhadap MBG dan KDMP secara transparan. Publik perlu mengetahui tidak hanya besaran anggaran yang terserap, tetapi juga hasil dan dampak yang kedua program tersebut berikan. Transparansi sangat penting karena kedua program melibatkan sumber daya publik dalam skala besar. Evaluasi independen dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, organisasi masyarakat dan lembaga audit perlu diberi ruang. Kebijakan yang baik tidak seharusnya takut terhadap evaluasi.
Peringatan kemerdekaan ke-81 seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali makna pembangunan. Kemerdekaan tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi dan berbagai program besar. Kemerdekaan juga harus terlihat dari kemampuan warga memperoleh pendidikan bermutu, kesempatan ekonomi yang adil dan kehidupan yang layak. Dalam kerangka tersebut, anak Indonesia memang berhak mendapatkan makanan bergizi. Masyarakat desa berhak memiliki institusi ekonomi yang kuat. Namun, guru dan dosen juga berhak memperoleh kesejahteraan yang sepadan dengan tanggung jawabnya.
Ketiga agenda tersebut tidak harus saling meniadakan. Persoalan utamanya adalah keberanian negara menetapkan prioritas secara rasional, proporsional dan berbasis bukti. Pemerintah perlu mempertahankan MBG jika program tersebut terbukti meningkatkan gizi dan pembelajaran. Pemerintah juga perlu memperkuat KDMP jika koperasi mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Sementara itu, pemerintah perlu terus meningkatkan kesejahteraan pendidik karena guru dan dosen memegang peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
Pada akhirnya, negara tidak cukup mengukur keberhasilan kemerdekaan melalui kemampuan menjalankan program besar. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan negara memastikan bahwa setiap kebijakan memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan. Keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari dampak nyata yang masyarakat rasakan. Pendidikan perlu menghasilkan peserta didik dan pendidik berkualitas, sekolah serta perguruan tinggi bermutu, dan pengetahuan maupun inovasi yang bermanfaat. Ekonomi desa perlu meningkatkan kesejahteraan sekaligus kemandirian usaha masyarakat. Sementara kebijakan gizi perlu membantu meningkatkan kesehatan dan kemampuan belajar anak.
Peringatan 17 Agustus 2026 semestinya mengingatkan kembali bahwa kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan masa lalu tetapi tanggung jawab kebijakan pada masa sekarang. Program besar dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat republik ini tetapi besarnya program tidak boleh menggantikan ketepatan prioritas. Makan bergizi penting, koperasi desa penting. Namun, pendidikan bermutu dan kesejahteraan pendidik juga tidak kalah penting. Jika Indonesia ingin mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045, pemerintah perlu membangun manusia secara utuh dengan memastikan masyarakat hidup sehat, memiliki ketahanan ekonomi, memperoleh pendidikan yang baik, mampu berpikir kritis, serta mendapat dukungan dari pendidik yang memperoleh penghargaan dan kesejahteraan layak.
Mewujudkan Kemerdekaan melalui Kebijakan
Pada usia 81 tahun, Indonesia memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya merayakan kemerdekaan setiap Agustus, tetapi juga mewujudkannya melalui kebijakan yang rasional dan adil. Pemerintah tidak perlu memilih antara memenuhi kebutuhan gizi anak, membangun koperasi, atau meningkatkan kesejahteraan pendidik. Pemerintah justru perlu memastikan seluruh kebijakan tersebut berjalan dalam satu arah, yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Pembangunan tidak seharusnya hanya mengejar jumlah porsi makanan, jumlah koperasi, atau banyaknya program yang pemerintah luncurkan. Pembangunan perlu menghasilkan manusia Indonesia yang sehat, berpengetahuan, mandiri, produktif, dan mampu menentukan masa depannya sendiri. Melalui upaya tersebut, masyarakat dapat merasakan makna kemerdekaan secara lebih nyata.
- Penulis: Andi Riyanto (Dosen dan Anggota Serikat Pekerja Kampus)
- Editor: Neng Merly
