Kampung Batik Purwasedar, Jejak Batik Tulis hingga Kini
- account_circle Ardila Khaylila
- calendar_month 25 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mahasiswa BSI Explore 2026 bersama pihak Kampung Batik Purwasedar | Doc: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Purwasedar – Kampung Batik Purwasedar menjadi salah satu potensi budaya yang masih bertahan hingga saat ini. Batik tulis khas kampung tersebut memiliki ciri tersendiri karena proses pembuatannya mengandalkan keterampilan tangan serta bahan pewarna alami. Setiap motif lahir dari kreativitas pembuatnya tanpa meniru motif dari tempat lain.
Kampung Batik Purwasedar mulai berkembang sejak 2005. Pada tahun 2007, pengelola mulai membangun tempat produksi dan langsung menjalankan proses pembuatan batik. Saat itu, sekitar 30 orang bekerja dalam usaha tersebut. Aktivitas produksi terus berjalan dan cukup aktif pada rentang 2010 hingga 2018.
Awal Mula dan Perkembangan Kampung Batik Purwasedar
Perjalanan usaha batik tersebut menjadi bagian dari perkembangan budaya lokal. Pada masa aktif produksinya, batik tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga mendapat pesanan dari luar negeri.
Sekitar 2019, kondisi usaha mulai mengalami penurunan hingga masa pandemi COVID-19. Situasi tersebut turut memengaruhi jumlah pesanan dan aktivitas produksi. Meski begitu, para perajin tetap mempertahankan proses pembuatan batik tulis secara homemade.
Motif Khas hingga Pasar Mancanegara

Beragam motif batik khas Kampung Batik Purwasedar dengan corak dan warna yang beragam | Doc: Istimewa
Sentra batik ini memiliki sekitar 62 motif yang menjadi ciri khasnya. Salah satunya adalah motif Baksil yang mengangkat tema pertanian dan telah mendapat pengakuan melalui Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
Batik karya perajin setempat juga pernah mendapat perhatian dari sejumlah pihak luar negeri. Pesanan pernah datang dari Malaysia, Korea, hingga UNESCO. Produk tersebut bahkan pernah dibawa ke UNESCO, sehingga para perajin mendapat kesempatan memperkenalkan proses membatik secara langsung.
Pihak UNESCO juga sempat memberikan tawaran terhadap produk tersebut. Namun, tawaran itu tidak berlanjut karena adanya kekhawatiran bahwa proses tertentu dapat menghilangkan nilai seni dan budaya batik tulis.
Kampung Batik Purwasedar Bertahan melalui Pesanan
Saat ini, usaha tersebut tidak lagi memiliki karyawan karena jumlah penjualan mengalami penurunan. Proses produksi berjalan secara mandiri dan hanya berlangsung saat ada pesanan. Pembeli biasanya memberikan uang muka terlebih dahulu sebelum para perajin memulai proses pembuatan.
Barang sisa ekspor juga dapat masyarakat peroleh dengan harga lebih terjangkau. Sementara itu, batik tulis homemade memiliki nilai jual lebih tinggi. Harga sekitar Rp250 ribu belum cukup untuk mendapatkan batik tulis, tergantung jenis dan proses pembuatannya.
Kain untuk bahan batik berasal dari Pekalongan, sedangkan pewarna menggunakan bahan alami. Proses penghilangan warna pada kain menggunakan teknik godog atau perebusan. Berbagai proses manual tersebut menjadi bagian dari nilai budaya yang membuat batik tulis khas Purwasedar tetap memiliki karakter tersendiri hingga kini.
BSI Explore 2026 Kenalkan Potensi Budaya Purwasedar
Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi turut mengenal potensi budaya dan ekonomi lokal melalui program BSI Explore 2026 di Desa Purwasedar. Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat langsung berbagai potensi yang berkembang di tengah masyarakat, termasuk keberadaan Kampung Batik Purwasedar.
Program BSI Explore 2026 mengusung tema “Inspirasi Membangun Negeri”. Sebanyak 30 mahasiswa mengikuti program tersebut di lima desa Kecamatan Ciracap. Kelima desa itu meliputi Desa Purwasedar, Desa Gunung Batu, Desa Ujung Genteng, Desa Cikangkung, dan Desa Pangumbahan.
Selama berada di Purwasedar, mahasiswa berkesempatan mengenal kehidupan masyarakat secara lebih dekat. Mereka juga dapat melihat bagaimana keterampilan membatik menjadi bagian dari potensi budaya sekaligus kegiatan ekonomi masyarakat setempat.
Melalui BSI Explore 2026, mahasiswa tidak hanya mengenal budaya lokal, tetapi juga memahami berbagai potensi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang berkembang di Purwasedar. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa dalam melihat potensi daerah secara langsung.
- Penulis: Ardila Khaylila
- Editor: Siti Hasna Wulandari
