Pabrik Gutta Percha Tjipetir, Jejak Sejarah Sukabumi Mendunia
- account_circle M Padlan Muharrom
- calendar_month 57 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Bangunan bersejarah peninggalan kolonial di Sukabumi | Sumber: ANTARA News
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Sukabumi — Pabrik Gutta Percha Tjipetir menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan jejak penting dalam perkembangan teknologi dunia. Lokasinya berada di tengah rimbunnya perkebunan Sukabumi dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. Keberadaannya menjadikan tempat ini sebagai satu-satunya pabrik pengolahan getah perca alami yang masih bertahan di dunia.
Lokasinya berada di Desa Berkah, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kawasan perkebunan dan bangunannya masih terawat sehingga banyak orang menjadikannya sebagai tujuan wisata sejarah sekaligus edukasi. Tempat ini juga menjadi bukti penting peran Sukabumi dalam sejarah perkembangan teknologi dan komunikasi dunia.
Jejak Industri Bersejarah dari Sukabumi
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun Pabrik Tjipetir pada 1885 hingga 1888. Sejak awal, pabrik ini mengolah daun pohon palam (Palaquium gutta) menjadi gutta-percha. Material alami tersebut memiliki sifat keras, tetapi menjadi lentur saat terkena panas.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, gutta-percha memegang peran penting sebelum plastik modern berkembang. Karena itu, banyak industri memanfaatkan bahan ini untuk berbagai kebutuhan.
Berperan dalam Komunikasi Dunia
Pabrik Gutta Percha Tjipetir menghasilkan balok-balok getah perca untuk pasar internasional. Berbagai negara memanfaatkan material ini sebagai pelapis kabel telekomunikasi bawah laut, isolator listrik, peralatan medis, hingga bahan pembuatan bola golf.
Nama Tjipetir kembali menjadi sorotan dunia pada 2012–2014. Saat itu, ribuan balok bertuliskan “TJIPETIR” muncul di sejumlah pantai Inggris dan Eropa. Setelah melakukan penelusuran, para peneliti menemukan bahwa balok tersebut berasal dari kapal kargo Jepang SS Miyazaki Maru yang tenggelam pada 1917 saat Perang Dunia I.
Masih Menyimpan Mesin Berusia Ratusan Tahun
Para pekerja mengolah getah perca dengan mengekstraksi daun, bukan menyadap batang seperti pohon karet. Mereka menumbuk daun menggunakan mesin batu, memanaskannya dalam tangki khusus, lalu mencetaknya menjadi balok bertuliskan “TJIPETIR”. Menariknya, sebagian besar mesin peninggalan abad ke-19 masih berfungsi dan tetap terawat.
Saat ini, Pabrik Gutta Percha Tjipetir menjadi cagar budaya sekaligus laboratorium sejarah industri. Keberadaannya menunjukkan peran besar Sukabumi dalam mendukung perkembangan komunikasi global melalui teknologi kabel bawah laut.
- Penulis: M Padlan Muharrom
- Editor: Ardila Khaylila
