Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan mencakup kejujuran, pengendalian diri, disiplin, serta kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia.
Peran Orang Tua dan Sekolah Sangat Menentukan
Orang tua memegang peran utama dalam membentuk kebiasaan anak selama Ramadan. Mereka perlu memberikan contoh, membangun komunikasi yang hangat, serta memantau aktivitas anak tanpa bersikap represif. Keteladanan di rumah akan memperkuat nilai yang anak terima di sekolah.
Sekolah juga dapat mengambil langkah aktif dengan mengadakan kegiatan keagamaan seperti pesantren kilat, tadarus bersama, kajian Islami, hingga lomba bernuansa Ramadan. Kegiatan tersebut mampu mengisi waktu pelajar dengan aktivitas positif sekaligus memperkuat pemahaman agama.
Guru dan wali kelas juga dapat memberikan pendekatan persuasif. Mereka bisa berdialog dengan siswa tentang tantangan berpuasa, lalu memberikan motivasi agar siswa mampu melewati ujian tersebut.
Tantangan Era Digital dan Gaya Hidup Instan
Era digital turut memengaruhi pola pikir remaja. Konten media sosial yang menampilkan gaya hidup instan dan kurang menonjolkan nilai spiritual dapat mengikis kesadaran ibadah. Tanpa filter dan penguatan karakter, pelajar lebih mudah tergoda untuk mencari kenyamanan sesaat.
Fenomena mokel menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter tidak dapat berjalan sendiri. Orang tua, sekolah, dan lingkungan masyarakat harus bersinergi membangun kesadaran beribadah pada generasi muda. Dengan pendekatan yang edukatif dan penuh keteladanan, pelajar dapat menjalani Ramadan bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai proses pembentukan iman dan integritas diri.














