Gaya HidupOpiniPendidikan

Bukan Polisi Internet: Cara Orang Tua Membangun Kepercayaan Anak di Dunia Digital

6
×

Bukan Polisi Internet: Cara Orang Tua Membangun Kepercayaan Anak di Dunia Digital

Sebarkan artikel ini
Rumah sebagai Safe Space: Tempat Anak Pulang Saat Salah di Internet | Sumber: KlikDokter
Rumah sebagai Safe Space: Tempat Anak Pulang Saat Salah di Internet | Sumber: KlikDokter

Sukabumihitz – Dunia digital saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan ruang hidup utama bagi generasi muda Indonesia. Namun, di balik kemudahan akses informasi, tersimpan risiko besar mulai dari perundungan siber (cyberbullying), penipuan, hingga paparan konten tidak pantas. Di tengah ancaman ini, sebuah pertanyaan krusial muncul: ke mana anak akan melapor saat mereka terperosok dalam kesalahan di internet?

Langkah pertama dalam membangun kepercayaan adalah mengubah paradigma pengasuhan digital. Orang tua sering kali terjebak menjadi “polisi internet” yang hanya fokus pada larangan dan hukuman. Pendekatan otoriter ini justru menciptakan jarak komunikasi yang lebar. Orang tua harus memosisikan diri sebagai mitra diskusi. Kita harus membangun komunikasi terbuka jauh sebelum masalah terjadi.

Baca juga: Strategi Parenting Islami: Mempersiapkan Anak Menyambut Ramadhan

Dengan menciptakan suasana yang memandang kesalahan sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai alasan untuk marah, orang tua membuat anak merasa lebih aman untuk jujur. Ketika anak tidak merasa ‘dihakimi’, mereka akan lebih mudah mencari perlindungan kepada orang tua saat menghadapi masalah di internet

Untuk menjadi tempat pertama yang dicari anak, orang tua perlu menerapkan prinsip No-Judgment Zone atau zona tanpa penghakiman. Ketika anak mengaku telah mengakses situs terlarang atau tidak sengaja membagikan data pribadi, reaksi pertama orang tua sangatlah menentukan.

Alih-alih langsung meledak dalam amarah, mulailah dengan kalimat penenang seperti, “Terima kasih sudah jujur kepada Ayah/Ibu. Mari kita cari solusinya bersama.” Respon yang tenang ini memberikan sinyal pada otak anak bahwa mereka berada di lingkungan yang suportif. Setelah situasi mereda, barulah orang tua dapat memberikan edukasi mengenai risiko dan cara menghindari kesalahan serupa di kemudian hari.

Pentingnya Literasi Digital Kolaboratif

Kepercayaan juga tumbuh dari pemahaman yang setara. Orang tua tidak boleh gagap teknologi. Dengan memahami platform yang digunakan, orang tua bisa memberi arahan yang relevan, bukan sekadar melarang tanpa dasar. Orang tua juga dapat melibatkan anak dalam menyusun ‘kontrak digital’ keluarga. Kontrak ini memuat kesepakatan tentang waktu layar, jenis aplikasi, serta komitmen untuk saling terbuka. Saat anak ikut menyusun aturan, mereka merasa dihargai dan terdorong menjaga kepercayaan tersebut

Membangun kepercayaan bukanlah kerja semalam. Ini adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Jika orang tua mampu membuktikan diri sebagai pendengar yang baik dan pemberi solusi yang bijak, maka secara alami anak akan menjadikan rumah sebagai benteng pertahanan utama mereka di tengah arus deras informasi digital. Pada akhirnya, keamanan anak di internet tidak hanya bergantung pada aplikasi pemblokir atau pengaturan privasi tercanggih, melainkan pada seberapa kuat ikatan emosional dan kepercayaan yang terjalin antara orang tua dan anak di meja makan.

Baca juga: Peran Orang Tua dalam Mendampingi Pembelajaran Berbasis Teknologi