Sukabumihitz – Dalam kalender Hijriah, bulan Rajab menempati posisi yang sangat istimewa sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum atau bulan yang disucikan. Namun, di balik kemuliaannya, terdapat satu julukan unik yang menyertai bulan ini, yaitu Al-Asham. Secara terminologi dan sejarah, penamaan ini menyimpan filosofi mendalam yang merefleksikan kedamaian dan limpahan kasih sayang Sang Pencipta kepada hamba-Nya.
Secara harfiah, banyak literatur Islam mengaitkan Rajab dengan sebutan Al-Asham yang berarti “tuli”. Mengutip dari NU Online, julukan ini bukan tanpa alasan, pada era jahiliyah hingga awal perkembangan Islam, masyarakat Arab sangat menghormati kesucian bulan Rajab dengan menghentikan segala bentuk pertikaian dan gencatan senjata.
Keheningan dari Denting Pedang
Penyebutan “Bulan Tuli” merujuk pada suasana sunyi yang tercipta selama tiga puluh hari tersebut. Pada bulan ini, tidak terdengar sama sekali suara gemerincing pedang, deru peperangan, maupun teriakan minta tolong akibat konflik bersenjata. Keheningan ini menjadi simbol bahwa Rajab adalah zona waktu yang aman bagi siapa pun.
Baca juga: Strategi Spiritual: Cara Efektif Menyusun Worship Planner di Bulan Rajab
Para ulama menjelaskan bahwa “tuli”-nya bulan Rajab merupakan bentuk penghormatan terhadap perdamaian. Umat Muslim diajak untuk menulikan telinga dari segala provokasi yang memicu perpecahan serta menutup rapat pintu konflik. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT untuk tidak menzalimi diri sendiri dan orang lain selama berada di bulan-bulan haram.
Relevansi Spiritual di Era Modern
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang penuh dengan disinformasi dan konflik sosial, memaknai kembali Rajab sebagai “Bulan Tuli” menjadi sangat relevan. Muslim masa kini diharapkan mampu menerapkan prinsip Al-Asham dengan cara “menulikan diri” dari pengaruh buruk media sosial, ghibah, dan ujaran kebencian yang dapat merusak pahala ibadah.
Menghidupkan kembali semangat Rajab berarti mengutamakan kedamaian batin dan sosial. Dengan memahami bahwa Rajab adalah waktu di mana rahmat Allah tercurah deras, mendorong setiap individu untuk menebarkan kebaikan bagi sesama. Dengan meneladani nilai-nilai perdamaian yang terkandung di dalamnya, umat Muslim dapat mempersiapkan spiritualitas yang lebih kokoh menjelang bulan suci Ramadhan.














