Teknologi

Konten Viral atau Konten Mesin? Fenomena AI Slop Mengguncang Media Sosial

3
×

Konten Viral atau Konten Mesin? Fenomena AI Slop Mengguncang Media Sosial

Sebarkan artikel ini
AI Slop dan Krisis Kualitas Konten di Era Algoritma Digital | Sumber: The Times of India
AI Slop dan Krisis Kualitas Konten di Era Algoritma Digital | Sumber: The Times of India

Sukabumihitz – Lebih dari 20% video yang algoritma YouTube berikan adalah “AI Slop” atau konten berkualitas rendah hasil generate AI. Sebuah perusahaan bernama Kapwing melakukan penelitian terhadap 15.000 channel YouTube, masing-masing 100 channel teratas dari berbagai negara. Hasilnya, mereka menemukan 278 channel berisi konten AI Slop. Dalam penelitian lain, Kapwing menelusuri 500 video Shorts dan menemukan 21% di antaranya merupakan hasil generate AI.

Sekitar 33% video tersebut bahkan dapat dikategorikan sebagai konten brainrot, yakni konten absurd dan tidak masuk akal yang bertujuan memonetisasi atensi penonton. Konsumsi berlebihan terhadap konten semacam ini berpotensi memengaruhi kualitas berpikir dan kondisi mental audiens.

Baca juga: Dari Plugin ke Algoritma, Mengapa TheoTown Jadi Tren Anak Muda?

Channel AI Slop ini telah mengumpulkan lebih dari 63 miliar views dan 221 juta subscriber, dengan perkiraan pendapatan tahunan mencapai 117 juta dolar. Fenomena ini tidak hanya terjadi di YouTube. Platform seperti Facebook, X, TikTok, dan Instagram juga menghadapi kondisi serupa. Bahkan, sebagian pengamat menilai Instagram dan TikTok mengalami situasi yang lebih parah.

Fenomena AI Slop dan Ekosistem Digital

Berbagai content creator, termasuk generasi muda yang ingin terjun ke dunia kreatif digital, kini harus bersaing dengan mesin. Tanpa sadar, AI tidak hanya menghasilkan video, tetapi juga ide konten, proses unggah, hingga pembuatan judul dan deskripsi secara otomatis.

Jika seseorang menggunakan AI dengan memasukkan prompt secara manual, ide tetap berasal dari manusia. Namun dalam kasus AI Slop, sistem bekerja sepenuhnya otomatis. Proses ini dikenal sebagai botting, yang mempercepat penyebaran konten secara masif.

Ketika Algoritma Mengutamakan Kuantitas

Pada akhirnya, AI Slop bukan sekadar persoalan kualitas konten. Ini menyangkut ekosistem digital yang lebih menghargai kecepatan dan kuantitas dibanding makna. Algoritma tidak menilai manfaat atau substansi video. Sistem hanya menghitung apakah konten ditonton atau tidak.

Meski demikian, fenomena ini juga menjadi bukti pesatnya perkembangan teknologi AI. Ke depan, kecerdasan buatan akan semakin canggih dan kompleks.

Tantangan dan Peluang di Era AI

Perkembangan AI menuntut generasi muda memahami teknologi secara lebih mendalam. Pemahaman tentang pemrograman, sistem informasi, dan kecerdasan buatan menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan ekosistem digital.

Alih-alih hanya menjadi konsumen, generasi muda perlu menjadi kreator dan inovator yang mampu mengendalikan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.

Baca juga: Virus dan Ancaman Tak Terlihat Lainnya di Era Digital