Keagamaan

Strategi Parenting Islami: Mempersiapkan Anak Menyambut Ramadhan

13
×

Strategi Parenting Islami: Mempersiapkan Anak Menyambut Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Parenting Islami: Mempersiapkan Anak Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab | Sumber: Generated AI (Gemini)

Sukabumihitz – Bagi banyak keluarga Muslim, bulan Ramadhan sering kali menjadi momen yang mendadak sibuk dengan perubahan pola tidur dan makan. Namun, para pakar parenting dan pendidikan Islam menekankan bahwa keberhasilan anak dalam menjalani ibadah Ramadhan sangat bergantung pada persiapan yang dimulai jauh sebelumnya. Bulan Rajab, sebagai pintu awal menuju bulan suci, menjadi momentum krusial bagi orang tua untuk menanamkan pemahaman dan kecintaan ibadah kepada buah hati secara bertahap.

Mempersiapkan anak sejak dini bukan hanya tentang fisik, melainkan membangun keterikatan emosional terhadap nilai-nilai keislaman. Berikut adalah strategi parenting profesional untuk memperkenalkan Ramadhan melalui pintu bulan Rajab.

1. Menanamkan Makna Ramadhan Lewat Cerita yang Menginspirasi

Langkah awal yang bisa orang tua lakukan adalah membangun komunikasi yang hangat dan edukatif. Manfaatkan momen-momen penting di bulan Rajab, seperti peristiwa Isra Mi’raj, untuk mengenalkan kebesaran Allah dan pentingnya shalat. Cerita yang disampaikan dengan bahasa sederhana dan penuh imajinasi akan memicu rasa ingin tahu anak.

Selain itu, orang tua dapat mengenalkan konsep Rajab sebagai “bulan menanam kebaikan”. Jelaskan bahwa Ramadhan ibarat musim panen, sehingga semua kebiasaan baik perlu dimulai sejak sekarang. Pendekatan ini membantu anak memahami makna ibadah secara logis dan emosional, bukan sekadar menjalankan perintah.

2. Melatih Ibadah Anak Secara Bertahap dan Menyenangkan

Anak membutuhkan proses untuk beradaptasi dengan perubahan, termasuk dalam ibadah. Oleh karena itu, latihan bertahap di bulan Rajab menjadi langkah yang bijak. Orang tua dapat mengajak anak ikut sahur, mencoba puasa beberapa jam, atau sekadar menahan lapar hingga waktu tertentu.

Selain puasa, biasakan anak untuk ikut shalat berjamaah dan membaca Al-Qur’an setiap hari meski hanya satu halaman. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membentuk pola ibadah yang terasa ringan. Dengan cara ini, Ramadhan hadir sebagai kelanjutan kebiasaan, bukan sebagai beban baru.

Baca juga: Menelusuri Makna Al-Asham: Alasan Mengapa Rajab Disebut Bulan Tuli?

3. Membangun Antusiasme Anak Lewat Proyek Keluarga

Agar persiapan terasa lebih seru, orang tua bisa mengajak anak membuat proyek kreatif bersama. Misalnya, kalender hitung mundur menuju Ramadhan yang dimulai sejak bulan Rajab. Setiap hari, anak dapat menandai target kebaikan yang berhasil mereka lakukan, seperti shalat tepat waktu atau membantu orang tua.

Pendekatan visual semacam ini membantu anak memahami konsep waktu sekaligus menumbuhkan rasa bangga atas pencapaiannya (sense of achievement). Selain itu, kegiatan bersama juga mempererat ikatan emosional dalam keluarga.

4. Menjadi Teladan Nyata dalam Menyambut Bulan Mulia

Anak belajar paling efektif melalui contoh. Karena itu, keteladanan orang tua memegang peran kunci dalam proses ini. Saat anak melihat orang tuanya menyambut Rajab dengan semangat ibadah, memperbanyak doa, dan gemar bersedekah, mereka akan menirunya secara alami.

Ciptakan suasana rumah yang mendukung ibadah dengan mengurangi tontonan yang kurang bermanfaat dan menggantinya dengan obrolan ringan seputar Ramadhan. Misalnya, diskusi tentang menu sahur favorit atau rencana berbagi bersama sesama.

Menjadikan bulan Rajab sebagai masa persiapan Ramadhan merupakan strategi parenting yang cerdas dan relevan. Melalui edukasi yang lembut, latihan bertahap, serta keteladanan yang konsisten, orang tua tidak hanya mengajarkan anak berpuasa. Lebih dari itu, mereka sedang membangun fondasi karakter spiritual yang akan tumbuh hingga anak dewasa. Mari jadikan momentum ini untuk mencetak generasi yang rindu akan kehadiran bulan suci.

Baca juga: Apa yang Tersembunyi di Balik Kata Ramadhan? Temukan Jawabannya!