Ramadhan

Ngabuburit Digital: Cara Baru Menikmati Tradisi Ramadhan

2
×

Ngabuburit Digital: Cara Baru Menikmati Tradisi Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Kehadiran teknologi digital dan media sosial menghadirkan pola aktivitas baru, terutama di kalangan anak muda | Sumber: istockphoto

Sukabumihitz – Ngabuburit telah lama menjadi tradisi khas masyarakat Indonesia saat menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan ini tidak sekadar mengisi waktu menjelang adzan Maghrib, tetapi juga menjadi bagian dari budaya Ramadhan yang mempererat kebersamaan. Dahulu, masyarakat biasanya memanfaatkan waktu ngabuburit dengan aktivitas sederhana namun bermakna, seperti mengikuti pengajian, membaca Al-Qur’an, atau berjalan santai di sekitar lingkungan rumah.

Seiring perkembangan zaman, cara orang menjalani ngabuburit pun ikut berubah. Kehadiran teknologi digital dan media sosial menghadirkan pola aktivitas baru, terutama di kalangan anak muda. Kini, banyak orang mengisi waktu menjelang berbuka dengan membuat konten di TikTok, melakukan siaran langsung di Instagram, berburu takjil, atau sekadar menjelajahi linimasa media sosial.

Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi ikut membentuk kebiasaan masyarakat selama bulan Ramadhan. Aktivitas digital bahkan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda saat menunggu waktu berbuka.

Baca juga: Menjelajahi Kekayaan Kuliner Nusantara

Di satu sisi, fenomena ngabuburit digital membawa banyak peluang positif. Media sosial dapat menjadi ruang untuk menyebarkan konten dakwah kreatif, berbagi inspirasi kebaikan, serta memperluas silaturahmi tanpa batas ruang. Banyak kreator memanfaatkan platform digital untuk menyampaikan pesan Ramadhan dengan cara yang lebih segar dan mudah diterima.

Namun di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan juga berpotensi menggeser makna asli ngabuburit. Interaksi langsung dengan keluarga, teman, atau masyarakat sekitar bisa berkurang jika seseorang terlalu fokus pada dunia digital. Selain itu, sebagian orang terkadang menjadikan momen Ramadhan hanya sebagai ajang pencitraan di media sosial.

Karena itu, generasi muda perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan nilai-nilai Ramadhan. Teknologi sebenarnya bukan masalah selama seseorang menggunakannya secara bijak. Justru, jika dimanfaatkan dengan tepat, media sosial dapat menjadi sarana untuk menebar manfaat sekaligus memperkuat pesan kebaikan.

Pada akhirnya, esensi ngabuburit tetap sama, mengisi waktu menjelang berbuka dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah. Meskipun tradisi ini kini hadir dalam wajah yang lebih modern, maknanya tetap bisa terjaga selama masyarakat tetap menempatkan nilai kebersamaan dan keberkahan Ramadhan sebagai prioritas utama.

Baca juga: Santunan Ramadan Penuh Berkah! Hadirkan Kebahagiaan bagi Anak Panti Asuhan At-Taqwa