Sukabumihitz – Arus globalisasi mengubah pola konsumsi masyarakat. Produk makanan global kini hadir di hampir setiap sudut kota. Restoran cepat saji, minuman kekinian, dan produk instan asing menjadi pilihan harian, terutama bagi generasi muda. Perubahan ini menempatkan makanan lokal pada posisi yang semakin terdesak.
Makanan lokal sebenarnya menyimpan nilai budaya dan identitas daerah. Setiap menu membawa cerita, tradisi, dan karakter rasa yang khas. Namun, banyak orang mulai menganggap makanan lokal kurang praktis dan kurang menarik. Tantangan utama bukan pada rasa, melainkan pada cara memperkenalkan dan memposisikan makanan lokal di pasar modern.
Produk Global dan Pergeseran Selera
Produk global menarik perhatian melalui strategi pemasaran yang agresif. Brand internasional menawarkan rasa konsisten dan kemasan modern. Mereka juga menjual pengalaman makan yang cepat dan praktis. Media sosial memperkuat citra tersebut secara masif.
Banyak konsumen mengaitkan produk global dengan gaya hidup modern. Mereka menjadikan makanan sebagai simbol pergaulan dan identitas sosial. Kondisi ini membuat makanan lokal sering kalah bersaing, meski kualitas rasa tetap kuat.

Pelaku kuliner lokal sering menghadapi keterbatasan promosi. Tanpa strategi komunikasi yang tepat, makanan lokal sulit menembus pasar luas. Dominasi produk global akhirnya tidak hanya menguasai rak penjualan, tetapi juga membentuk selera publik.
Inovasi sebagai Jalan Bertahan
Makanan lokal tetap memiliki peluang untuk bertahan. Pelaku usaha mulai mengemas menu tradisional dengan pendekatan baru. Mereka memperbarui tampilan, kemasan, dan cara penyajian tanpa mengubah cita rasa utama.
Anak muda berperan besar dalam proses ini. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mengangkat cerita di balik makanan lokal. Mereka juga menghubungkan tradisi dengan selera masa kini. Pendekatan ini membuat makanan lokal terasa lebih relevan.
Upaya menjaga makanan lokal bukan berarti menolak produk global. Masyarakat bisa menikmati keberagaman rasa sambil tetap menghargai kuliner sendiri. Selama pelaku usaha terus berinovasi dan konsumen memberi ruang, makanan lokal akan tetap hidup. Di tengah dominasi produk global, makanan lokal menjadi simbol jati diri yang patut dijaga.













