Sukabumihitz – Kondisi ketersediaan darah di Kota Sukabumi kini berada di titik kritis. Hingga Kamis (17/07), Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi hanya memiliki kurang dari 15 kantong darah, padahal kebutuhan setiap bulan mencapai 1.850 hingga 2.000 kantong.
Kepala Bidang Pelayanan Donor PMI Kota Sukabumi, Zanuar Ahmad Hikmah, menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dari rumah sakit tidak diimbangi dengan ketersediaan stok. Akibatnya, banyak permintaan darah yang belum bisa terpenuhi.
“Kami terus menerima permintaan dari rumah sakit, tapi jumlah darah yang tersedia sangat terbatas,” ujar Zanuar pada Kamis (17/07) mengutip dari sukabumiupdate.com.
PMI telah berusaha meningkatkan jumlah stok melalui kegiatan donor darah menggunakan unit mobil keliling. Namun, hasil yang didapat masih jauh dari kebutuhan.
“Kami rutin menggelar donor darah keliling. Sayangnya, hasilnya belum sesuai harapan. Kami mengapresiasi pendonor yang rutin datang. Tapi kami khawatir, karena jumlah pasien yang membutuhkan terus bertambah,” tambah Zanuar.
Saat ini, semua stok golongan darah hampir habis. Melihat situasi ini, Zanuar mengajak seluruh warga Sukabumi untuk aktif mendonorkan darah demi menyelamatkan nyawa sesama.
Baca juga: Sekolah Rakyat di Sukabumi Resmi Dibuka, 100 Siswa Kurang Mampu Mulai Menempuh Pendidikan
Zanuar juga menyebutkan bahwa bulan ini menjadi periode dengan kekurangan darah paling parah, berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya yang masih bisa memenuhi kebutuhan. Ia menilai, salah satu penyebab utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk rutin berdonor. Dalam satu kegiatan donor di Kota Sukabumi, PMI biasanya mendapatkan sekitar 50 kantong darah. Sementara di luar kota, jumlah itu bisa mencapai dua kali lipat. Namun, stok dari kegiatan tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan secara keseluruhan.
“Sebagai bentuk nyata kepedulian sosial, Kami terus mendorong masyarakat agar menjadikan donor darah sebagai kebiasaan. Untuk menjaga ketersediaan darah, Kami juga harus mengandalkan donor dari luar kota,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa mayoritas pendonor berasal dari instansi pemerintah, sekolah, dan perusahaan. Namun, kegiatan donor di tempat-tempat tersebut hanya berlangsung pada momen tertentu seperti peringatan hari besar nasional.
“Karena frekuensinya tidak rutin, ketersediaan darah jadi tidak stabil. Inilah alasan kami menyebut kondisi ini sebagai darurat,” pungkasnya.
Menurunnya stok darah bukan sekadar angka, di baliknya ada nyawa yang menunggu pertolongan. Donor darah hanya butuh waktu beberapa menit, namun dampaknya bisa menyelamatkan banyak hidup. Mari jadikan donor darah sebagai kebiasaan, bukan hanya rutinitas musiman. Ayo datang ke PMI Kota Sukabumi dan jadilah bagian dari solusi kemanusiaan hari ini!














