Proximity Bias: Tantangan Karier bagi Pekerja Remote
- account_circle Keysya Aprillia
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Proximity Bias: Tantangan Karier bagi Pekerja Remote | Sumber: Generated AI (Gemini)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com – Proximity Bias menjadi tantangan yang perlu diwaspadai oleh pekerja dengan sistem remote maupun hybrid. Model kerja ini menawarkan fleksibilitas dan membantu karyawan menghemat waktu perjalanan. Namun, bekerja dari luar kantor juga dapat membuat kontribusi seseorang kurang terlihat oleh atasan. Kondisi tersebut bisa memengaruhi penilaian kinerja hingga peluang pengembangan karier.
Proximity bias merupakan kecenderungan seseorang, termasuk manajer, untuk lebih memperhatikan karyawan yang sering hadir secara langsung di kantor. Akibatnya, karyawan yang bekerja jarak jauh berisiko kehilangan kesempatan meskipun mereka menunjukkan hasil kerja yang baik. Karena itu, pekerja perlu mengatur strategi agar kontribusi mereka tetap terlihat.
Proximity Bias dan Dampaknya bagi Karier
Pekerja remote perlu mengenali tanda-tanda ketika keberadaan mereka mulai kurang diperhatikan. Misalnya, mereka sering tertinggal informasi penting yang muncul dari diskusi informal di kantor. Selain itu, atasan mungkin lebih sering memberikan proyek strategis kepada rekan yang bekerja langsung di kantor.
Kurangnya komunikasi juga dapat membuat pekerja jarak jauh jarang menerima umpan balik. Jika kondisi ini terus berlangsung, mereka akan kesulitan menunjukkan perkembangan dan membangun hubungan profesional. Oleh sebab itu, pekerja perlu mengambil langkah aktif untuk menjaga keterlibatan dalam tim.
Strategi agar Kontribusi Tetap Terlihat
Salah satu cara mengatasi proximity bias ialah menerapkan strategic visibility. Pekerja dapat mengirimkan laporan perkembangan secara rutin melalui email atau kanal komunikasi tim. Dengan begitu, atasan dapat memahami capaian dan kendala pekerjaan tanpa harus menanyakannya terlebih dahulu.
Selanjutnya, manfaatkan rapat virtual untuk menyampaikan gagasan dan memberikan tanggapan. Pekerja juga perlu mendokumentasikan hasil kerja melalui laporan atau portofolio agar dampaknya terlihat jelas. Selain itu, mereka dapat menjadwalkan virtual coffee chat bersama atasan maupun rekan kerja untuk membangun komunikasi yang lebih akrab.
Pekerja juga perlu memahami gaya komunikasi atasannya. Sebagian atasan lebih menyukai laporan singkat berbasis data, sedangkan yang lain memilih diskusi langsung. Dengan menyesuaikan pendekatan, pekerja dapat menjaga hubungan profesional sekaligus memperkuat kepercayaan.
Peran BSI Career Center dalam Persiapan Karier
Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja, termasuk tantangan komunikasi dalam sistem kerja jarak jauh. BSI Career Center (BCC) menjadi salah satu wadah pendukung pengembangan karier mahasiswa.
Melalui pembekalan keterampilan dan persiapan memasuki dunia profesional, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan komunikasi, membangun relasi, serta mengenali strategi pengembangan karier. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga mampu menunjukkan kontribusi secara efektif di lingkungan kerja modern.
- Penulis: Keysya Aprillia
- Editor: Salsabila
