Breaking News
light_mode
Beranda » Pendidikan » Dari Demokratisasi Pengetahuan Menuju Ilusi Kepakaran di Era Generative AI

Dari Demokratisasi Pengetahuan Menuju Ilusi Kepakaran di Era Generative AI

  • account_circle Andi Riyanto (Akademisi dan Mitra Bestari Jurnal Nasional)
  • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Persoalan ini dapat dilihat melalui konsep epistemic dependence. Dalam dunia akademik, tidak seorang pun menghasilkan seluruh pengetahuannya sendiri. Ilmuwan bergantung pada hasil penelitian orang lain, database, metode yang dikembangkan komunitas ilmiah, perangkat analisis serta keahlian berbagai pihak. Hardwig (1985) telah lama menjelaskan bahwa ketergantungan epistemik merupakan bagian yang tidak terhindarkan dari produksi pengetahuan modern. Masalahnya bukan pada ketergantungan itu sendiri tetapi pada dasar yang membuat suatu sumber layak dipercaya. Dalam ilmu pengetahuan, kredibilitas biasanya dibangun melalui metode yang dapat diperiksa, sumber yang dapat ditelusuri, reputasi keilmuan, mekanisme koreksi dan tanggung jawab atas pernyataan yang dibuat. GenAI tidak memiliki tanggung jawab epistemik seperti itu. Sistem dapat menghasilkan jawaban dengan tingkat keyakinan linguistik yang tinggi sekalipun isi jawabannya salah. Karena itu, ketika pengguna menerima hasil AI tanpa verifikasi, persoalannya tidak sekadar teknis. Pengguna sedang mempercayakan sebagian keputusan mengenai kebenaran kepada sistem yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas kesalahannya.

Konsep cognitive offloading juga membantu menjelaskan perubahan ini (Risko & Gilbert, 2016). Manusia sejak lama memindahkan sebagian beban kognitif kepada teknologi. Kalkulator digunakan untuk perhitungan, mesin pencari membantu menemukan informasi, reference manager menyimpan dan mengelola pustaka, sedangkan perangkat statistik membantu melakukan analisis. Hal tersebut tidak otomatis merusak kemampuan berpikir. Persoalan muncul ketika teknologi mengambil alih kemampuan yang justru sedang dilatih atau dinilai. Jika sebuah tugas bertujuan melatih mahasiswa menyusun argumentasi tetapi argumentasi tersebut sepenuhnya dibuat oleh AI, mahasiswa mungkin menyerahkan tulisan yang baik tanpa mengalami proses belajar yang menjadi tujuan tugas itu sendiri. Penelitian Fan et al. (2025) memberikan gambaran menarik mengenai persoalan tersebut. Dukungan ChatGPT dapat meningkatkan performa tulisan mahasiswa tetapi peningkatan hasil tidak selalu diikuti peningkatan pengetahuan dan kemampuan transfer. Peneliti bahkan memperingatkan risiko munculnya metacognitive laziness. Dengan kata lain, kualitas hasil akademik dapat terlihat meningkat sementara kualitas proses kognitif manusia dibelakangnya belum tentu mengalami peningkatan yang setara.

Di titik inilah pembahasan mengenai AI harus dihubungkan dengan academic integrity (UNESCO, 2023). International Center for Academic Integrity menempatkan honesty, trust, fairness, respect, responsibility dan courage sebagai nilai fundamental integritas akademik (ICAI, 2021). Enam prinsip tersebut menempatkan persoalan AI jauh melampaui isu plagiarism checker. Integritas akademik tidak hanya berarti teks tidak sama dengan karya orang lain. Integritas juga berkaitan dengan apakah seseorang secara jujur merepresentasikan kontribusi intelektual yang benar-benar dilakukannya.

Penggunaan Generative AI di lingkungan perguruan tinggi perlu memperhatikan integritas akademik, transparansi, dan tanggung jawab atas hasil karya | Sumber: Generated AI (Gemini)

Inilah alasan mengapa hubungan antara GenAI dan plagiarisme tidak dapat dibaca menggunakan pemahaman lama tentang copy-paste. Dalam plagiarisme konvensional, seseorang menggunakan kata, gagasan atau karya pihak lain tanpa atribusi yang semestinya. GenAI dapat menghasilkan teks baru secara statistik sehingga kalimatnya mungkin tidak identik dengan satu sumber tertentu. Akibatnya, sebuah tulisan yang hampir seluruhnya dihasilkan AI mungkin menunjukkan similarity yang sangat rendah. Namun similarity rendah tidak otomatis berarti karya tersebut memiliki orisinalitas intelektual. Jika mahasiswa memasukkan instruksi ke ChatGPT, menerima esai lengkap, melakukan sedikit perubahan, lalu menyerahkannya sebagai hasil pemikirannya sendiri, masalah integritas tetap ada walaupun plagiarism checker tidak menemukan kemiripan berarti.

Karena itu perlu dibedakan antara textual plagiarism, idea plagiarism, contract cheating, unauthorized assistance, AI-assisted writing, AI-generated writing dan misrepresentation of authorship. AI-assisted writing masih memungkinkan manusia menjadi pengendali utama substansi. Misalnya, penulis telah menyusun argumen dan data sendiri, kemudian menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa atau meminta umpan balik terhadap struktur tulisan. Situasinya berbeda ketika AI menghasilkan argumentasi utama, interpretasi atau kesimpulan dan manusia sekadar memindahkannya ke dokumen. Lebih jauh lagi, persoalan menjadi serius apabila penggunaan tersebut melanggar aturan tugas atau tidak diungkapkan ketika disclosure (pengungkapan) memang diwajibkan. Jadi pertanyaan etis yang penting bukan sekadar “berapa persen AI dalam tulisan ini?”, melainkan “siapa yang sesungguhnya melakukan pekerjaan intelektual yang sedang dinilai?”.

Perguruan tinggi karena itu perlu berpindah dari paradigma sempit “mendeteksi plagiarisme” menuju upaya menjaga integritas proses penciptaan pengetahuan. Tugas akademik bukan sekadar produk akhir. Ada proses membaca, memilih bukti, menghubungkan teori, menolak informasi yang tidak relevan, mengubah pendapat setelah menemukan bukti baru dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Seluruh proses itu sulit terlihat hanya dari dokumen final. Kehadiran AI justru memaksa universitas untuk kembali memperhatikan proses tersebut.

  • Penulis: Andi Riyanto (Akademisi dan Mitra Bestari Jurnal Nasional)
  • Editor: Siti Hasna Wulandari

Rekomendasi Untuk Anda

  • HUT RI ke-81

    Semarak HUT RI ke-81, Siswa SDN Simpenan Antusias Ikuti Beragam Lomba

    • calendar_month Jumat, 21 Agt 2026
    • account_circle Ardila Khaylila
    • 0Komentar

    Sukabumihitz.com, Purwasedar – Semangat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia terasa meriah di SDN Simpenan pada Kamis (20/8). Seluruh siswa mengikuti berbagai perlombaan dengan penuh antusias sebagai bagian dari perayaan HUT RI ke-81. Sejak perlombaan dimulai, keceriaan terlihat dari para siswa. Mereka saling memberikan dukungan dan berusaha menyelesaikan setiap tantangan dengan semangat. Selain […]

  • Pererat Silaturahmi Antar-Generasi, Alumni Ramaikan Alumni Padel Day 2026

    Pererat Silaturahmi Antar-Generasi, Alumni Ramaikan Alumni Padel Day 2026

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle Anggita Sulistiyaningsih
    • 0Komentar

    Sukabumihitz.com, Sukabumi – Ajang Alumni Padel Day 2026 berlangsung meriah di Disen Arena pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi menggelar kegiatan olahraga ini sebagai ruang temu bagi para alumni. Mengusung tagline “Serve, Smash, and Reconnect!”, Alumni Padel Day 2026 menghadirkan suasana santai dan hangat. Alumni BSI Sukabumi dari angkatan […]

  • Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 Jadi Ruang Kreativitas Generasi Muda

    Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 Jadi Ruang Kreativitas Generasi Muda

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Ardila Khaylila
    • 0Komentar

    Sukabumihitz.com, Purwasedar – Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 berlangsung di Saung Alam Buruan Ajar Indonesia, Desa Purwasedar, pada Minggu (9/8). Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak pesisir untuk mengenal budaya dan mengembangkan kreativitas. Selain itu, kegiatan tersebut mendorong rasa percaya diri melalui berbagai aktivitas seni dan budaya. Acara tersebut turut menghadirkan Ketua Kelompok Sadar […]

  • Brave Pink dan Hero Green Jadi Simbol Perlawanan dan Harapan Masyarakat

    Brave Pink dan Hero Green Jadi Simbol Perlawanan dan Harapan Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Rizky Akbar
    • 0Komentar

    Sukabumihitz – Fenomena warna Brave Pink dan Hero Green semakin ramai diperbincangkan. Kedua warna ini tidak hanya menjadi tren, tetapi juga menyuarakan perlawanan, keberanian, dan harapan masyarakat. Brave Pink Melambangkan Keberanian Brave Pink menggambarkan keberanian rakyat melawan ketidakadilan. Banyak kelompok menjadikan pink sebagai bendera perjuangan dan menegaskan bahwa suara kecil mampu menggema ketika mereka bersatu. […]

  • Semarak HUT ke-79 Kemerdekaan RI, Upacara di Lapang Merdeka Sukabumi Berjalan Penuh Khidmat

    Semarak HUT ke-79 Kemerdekaan RI, Upacara di Lapang Merdeka Sukabumi Berjalan Penuh Khidmat

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2024
    • account_circle Dian
    • 0Komentar

    Sukabumihitz – Pada Sabtu (17/8) Kota Sukabumi menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapang Merdeka dengan penuh khidmat. Penjabat Wali Kota Sukabumi, Kusmana Hartadji, bertindak sebagai Inspektur Upacara. Selain itu, turut hadir ketua DPRD Kota Sukabumi Kamal Suherman, Plh Sekda Kota Sukabumi Hasan Asari, serta unsur Forkopimda lainnya. Komandan […]

  • Kode Redeem Roblox November 2025: Dapatkan Item Gratis Sekarang

    Kode Redeem Roblox November 2025: Dapatkan Item Gratis Sekarang

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Smi
    • 0Komentar

    Sukabumihitz — Roblox kembali memberi kejutan menarik bagi para pemain di bulan November 2025. Melalui kode redeem terbaru, pemain bisa memperoleh berbagai hadiah gratis mulai dari aksesori unik, item eksklusif, hingga bonus di beberapa game populer. Setiap kode punya batas waktu tertentu, jadi pemain harus segera menukarkannya sebelum kedaluwarsa. Tim pengembang Roblox rutin merilis kode […]

expand_less