Dari Demokratisasi Pengetahuan Menuju Ilusi Kepakaran di Era Generative AI
- account_circle Andi Riyanto (Dosen dan Anggota Serikat Pekerja Kampus)
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Generative AI dalam aktivitas akademik yang memunculkan tantangan terhadap literasi, integritas, dan kepakaran di perguruan tinggi | Sumber: Generated AI (Gemini)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perguruan Tinggi Tetap Membutuhkan Manusia
Pada akhirnya, persoalan AI di perguruan tinggi bukan tentang memilih antara menerima teknologi atau menolaknya. Perguruan tinggi perlu menentukan aktivitas yang tetap harus manusia lakukan karena aktivitas tersebut menjadi inti pendidikan dan penelitian. Cotton dan tim pada 2024 turut menyoroti pentingnya mempertahankan peran manusia dalam proses pendidikan di tengah perkembangan AI.
Membaca dengan serius, memahami argumen, menguji bukti, memeriksa sumber, menyusun penalaran, mengakui keterbatasan, dan bertanggung jawab atas kesimpulan merupakan bagian dari proses pembentukan akademisi.
Teknologi dapat membantu hampir seluruh proses tersebut. Namun, bantuan tidak boleh menghilangkan tanggung jawab intelektual.
Nichols (2024) mengingatkan bahwa akses luas terhadap informasi tidak otomatis menghasilkan kepakaran. GenAI membuat persoalan tersebut semakin rumit karena seseorang kini dapat menghasilkan tulisan dengan ciri bahasa seorang ahli tanpa memiliki kedalaman pengetahuan yang sama.
Karena itu, tantangan pendidikan tinggi bukan memastikan manusia selalu menulis tanpa bantuan AI. Tantangannya adalah memastikan manusia tetap memahami tulisannya, mengetahui dasar setiap klaim, mampu mempertahankan argumennya, dan bersedia bertanggung jawab ketika ternyata salah.
Jika universitas tetap menghasilkan ribuan makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan artikel ilmiah setiap tahun, tetapi para penulisnya semakin jarang membaca sumber asli, memeriksa data, membangun argumentasi, dan memahami tulisannya, kita perlu mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Bukan sekadar, “Apakah AI telah menjadi semakin pintar?”. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah “Apakah perguruan tinggi masih menghasilkan pengetahuan, atau hanya menghasilkan semakin banyak teks yang tampak seperti pengetahuan?”
