Dampak Media Sosial pada Remaja, Picu FOMO hingga Ganggu Fokus Belajar
- account_circle Rayna Afraunisa
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kecanduan Penggunaan Gawai (Gadget) | Sumber: Magnific
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com – Dampak media sosial pada remaja, khususnya di Sukabumi, semakin terlihat dari perubahan pola komunikasi dan kebiasaan belajar. Penggunaan platform digital yang tinggi dapat memengaruhi cara remaja berinteraksi serta menjaga fokus saat belajar.
Akses media sosial yang mudah membuat remaja dapat menghabiskan banyak waktu di dunia maya. Jika tidak terkontrol, kebiasaan tersebut dapat memicu Fear of Missing Out (FOMO) hingga mengganggu konsentrasi saat belajar.
Dampak Media Sosial pada Pola Komunikasi Remaja
Intensitas penggunaan gawai yang tinggi membuat sebagian remaja menghabiskan waktu cukup lama di media sosial. Kondisi tersebut secara perlahan dapat mengurangi interaksi tatap muka dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, media sosial menghadirkan berbagai informasi dan aktivitas secara terus-menerus. Notifikasi yang muncul di ponsel dapat membuat perhatian remaja mudah teralihkan.
Di sisi lain, interaksi di media sosial juga dapat memengaruhi cara remaja melihat kehidupan orang lain. Mereka dapat menemukan berbagai unggahan mengenai aktivitas, pencapaian, maupun gaya hidup pengguna lain.
Kondisi tersebut dapat memicu FOMO. Remaja merasa khawatir tertinggal dari lingkungan sosialnya atau tidak mengikuti hal yang sedang ramai di media sosial.
FOMO Dapat Mengganggu Fokus Belajar
FOMO tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sosial. Kebiasaan memeriksa media sosial secara berulang juga dapat mengganggu waktu belajar.
Ketika notifikasi terus muncul, perhatian remaja dapat berpindah dari materi pelajaran ke layar ponsel. Akibatnya, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali fokus pada kegiatan akademik.
Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga dapat membuat waktu belajar tertunda. Misalnya, remaja berniat menggunakan ponsel sebentar, tetapi kemudian menghabiskan waktu lebih lama untuk melihat berbagai konten.
Karena itu, remaja perlu mengenali kebiasaan penggunaan media sosial. Mereka juga perlu membedakan waktu untuk belajar, beristirahat, berinteraksi, dan menggunakan media sosial.
Literasi Digital Bantu Remaja Mengontrol Penggunaan Gawai
Menghadapi kondisi tersebut, pelarangan total terhadap penggunaan teknologi bukan satu-satunya pilihan. Sebaliknya, remaja membutuhkan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak.
Literasi digital dapat membantu remaja memahami informasi yang mereka temukan di internet. Mereka juga dapat belajar mengenali konten yang bermanfaat serta menghindari penggunaan media sosial secara berlebihan.
Selain literasi digital, pembatasan waktu penggunaan gawai atau screen time dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga keseimbangan aktivitas. Remaja dapat menetapkan waktu tertentu untuk membuka media sosial agar kegiatan belajar tidak terganggu.
Peran orang tua dan sekolah juga penting dalam membangun kebiasaan tersebut. Dengan pendampingan yang konsisten, remaja dapat belajar menggunakan teknologi tanpa mengabaikan aktivitas di dunia nyata.
Pada akhirnya, media sosial dapat memberikan manfaat sekaligus tantangan bagi remaja. Penggunaan yang terarah dapat membuka ruang untuk belajar, berkomunikasi, dan berkarya. Namun, remaja tetap perlu menjaga batas penggunaan agar media sosial tidak mengganggu fokus belajar dan interaksi sehari-hari.
Membangun Keterampilan Digital Bersama UBSI
Memahami penggunaan media sosial secara bijak juga perlu diiringi dengan kemampuan memahami teknologi digital. Karena itu, lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat bagi generasi muda untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi merupakan bagian dari UBSI yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif. Secara institusi, UBSI telah meraih Akreditasi Unggul dari BAN-PT. Sementara itu, Program Studi Sistem Informasi dan Informatika di Kampus Sukabumi juga telah meraih predikat Akreditasi Unggul dari LAM INFOKOM.
UBSI Kampus Sukabumi menyediakan Program Studi (Prodi) Sistem Informasi (S1), Informatika (S1), dan Akuntansi (S1+). Pembelajaran di bidang teknologi dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memahami pengembangan sistem, pengolahan data, pemrograman, hingga kebutuhan industri digital.
Selain perkuliahan, mahasiswa juga dapat mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kompetensi. Kegiatan seperti seminar, workshop, bootcamp, dan kompetisi dapat menjadi bagian dari pengalaman mahasiswa selama kuliah.
Bagi calon mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan di bidang teknologi dan mempersiapkan diri menghadapi perkembangan dunia digital, UBSI Kampus Sukabumi dapat menjadi salah satu referensi. Informasi pendaftaran dan program studi dapat dilihat melalui website resmi pmbubsi.id .
- Penulis: Rayna Afraunisa
- Editor: Siti Hasna Wulandari
