Makna Lagu “Teh Hijau” Tulus, Kisah Tentang Hampa dan Belajar Menerima Diri
- account_circle Nafisya Maulida Mudrikah
- calendar_month 20 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Makna Lagu “Teh Hijau” Tulus, Kisah Tentang Hampa dan Belajar Menerima Diri | Sumber: Google
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz – Penyanyi Indonesia Tulus kembali menghadirkan karya baru melalui single “Teh Hijau” yang resmi rilis pada 30 Juni 2026. Lagu ini langsung menarik perhatian karena membawa cerita yang dekat dengan pengalaman emosional banyak orang: ketika rasa bahagia perlahan menghilang, hati sulit terbuka, dan seseorang membutuhkan waktu untuk memahami dirinya sendiri.
Tulus menulis sendiri lirik dan melodi “Teh Hijau”. Dalam proses produksinya, ia menggandeng Yoseph Sitompul sebagai produser sekaligus pengaransemen. Tulus juga mengisi vokal utama dan vokal latar dalam lagu tersebut.
“Teh Hijau” Menggambarkan Fase Kehampaan
“Teh Hijau” tidak sekadar bercerita tentang minuman yang menjadi judul lagu. Tulus justru membawa pendengar masuk ke pengalaman seseorang yang sedang kehilangan rasa senang dan kesulitan menemukan kembali antusiasme dalam menjalani hari.
Pada bagian awal, tokoh dalam lagu menerima berbagai saran dari orang-orang di sekitarnya. Ia mendapat dorongan untuk menikmati alam, mencoba sesuatu yang baru, berolahraga, hingga membaca buku. Berbagai saran tersebut terdengar sederhana, tetapi tidak serta-merta mampu menghilangkan kehampaan yang sedang ia rasakan.
Situasi tersebut membuat lagu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ada kalanya seseorang sudah mencoba berbagai cara untuk merasa lebih baik, tetapi perasaan kosong tetap bertahan. Tulus tidak menggambarkan kondisi itu sebagai kegagalan. Sebaliknya, ia memberikan ruang bagi seseorang untuk memahami bahwa setiap proses membutuhkan waktu.
Makna “Tak Bisa Jatuh Cinta” dalam Lagu Tulus
Salah satu gagasan utama dalam “Teh Hijau” muncul melalui penggambaran seseorang yang merasa belum mampu jatuh cinta atau membuka hati. Namun, maknanya tidak harus terbatas pada hubungan romantis.
Frasa tersebut dapat dibaca sebagai gambaran ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu, merasa antusias, atau membuka diri terhadap pengalaman baru. Dengan demikian, lagu ini berbicara lebih luas tentang kondisi batin ketika seseorang merasa tidak memiliki energi emosional untuk menerima apa pun maupun siapa pun.
Tulus menyampaikan pengalaman tersebut dengan bahasa yang sederhana. Ia tidak memberikan solusi instan. Pendekatan tersebut justru membuat pesan lagu terasa lebih manusiawi karena proses memahami diri memang tidak selalu berjalan cepat.
Teh Hijau Menjadi Simbol Hal Sederhana yang Masih Bisa Dikendalikan
Menjelang bagian tengah lagu, teh hijau muncul sebagai gambaran yang menjadi kunci judul karya ini. RRI memaknai secangkir teh hijau sebagai simbol sederhana untuk mengelola emosi dan memusatkan perhatian pada sesuatu yang masih berada dalam kendali diri.
Simbol tersebut membuat pesan lagu terasa semakin kuat. Ketika seseorang tidak mampu mengubah keadaan besar yang sedang ia hadapi, ia masih dapat memperhatikan hal-hal kecil yang ada dalam jangkauannya.
Teh hijau akhirnya tidak hadir sebagai obat untuk menghilangkan kesedihan. Minuman tersebut justru menjadi teman dalam sebuah fase ketika seseorang belajar menerima keadaan dan memberikan waktu bagi dirinya sendiri.
- Penulis: Nafisya Maulida Mudrikah
- Editor: Rifa Fitriyani
