Rabu Wekasan di Desa Cikangkung Diisi Shalat dan Istighasah
- account_circle Rahma Sri Melati Putri
- calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Doa bersama menjadi bagian dari rangkaian kegiatan warga Desa Cikangkung dalam mengisi malam Rabu Wekasan | Doc: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Cikangkung – Masyarakat Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, menggelar shalat bersama dan istighasah tolak bala dalam rangka menyambut malam Rabu Wekasan. Kegiatan keagamaan tersebut berlangsung di Masjid Nurul Iman, Desa Cikangkung, pada Selasa malam (11/8).
Warga berkumpul di masjid untuk melaksanakan ibadah dan doa bersama. Suasana khidmat terlihat ketika jamaah mengikuti rangkaian shalat hingga istighasah yang menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam mengisi malam Rabu Wekasan.
Sebelum shalat dimulai, Ustaz Wawan selaku imam menjelaskan tata cara pelaksanaan shalat kepada jamaah. Ia menjelaskan bahwa setelah membaca Surah Al-Fatihah, jamaah membaca beberapa surah Al-Qur’an dengan jumlah pengulangan tertentu.
“Setelah membaca Al-Fatihah, surat yang dibaca yaitu Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, kemudian Al-Falaq satu kali dan An-Nas satu kali,” ujar Ustaz Wawan sebelum pelaksanaan shalat.
Ustaz Wawan juga menjelaskan makna kegiatan tersebut kepada jamaah. Menurutnya, warga menjadikan shalat dan istighasah bersama sebagai bentuk ikhtiar sekaligus doa kepada Allah SWT.
“Shalat dan istighasah ini merupakan ikhtiar dan doa kita agar selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Kita memohon keselamatan dan perlindungan kepada Allah dari berbagai hal yang tidak kita inginkan,” jelasnya.
Menjaga Tradisi Masyarakat
Kegiatan malam Rabu Wekasan di Masjid Nurul Iman tidak hanya menjadi momentum untuk melaksanakan ibadah bersama. Bagi masyarakat Desa Cikangkung, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan antarwarga.
Warga dari berbagai kalangan hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib. Mereka bersama-sama memanjatkan doa serta mengharap keberkahan dan perlindungan dari Allah SWT.
Selain itu, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman tersendiri bagi anggota BSI Explore yang turut mengikuti rangkaian kegiatan di Masjid Nurul Iman. Dhaniesya Naylasari, salah satu anggota BSI Explore, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan keagamaan bersama masyarakat Desa Cikangkung.
“Saya senang bisa mengikuti kegiatan shalat dan istighasah bersama warga Desa Cikangkung. Selain mendapatkan pengalaman baru, saya juga bisa merasakan langsung kebersamaan masyarakat dalam menjalankan tradisi keagamaan,” ujar Dhaniesya, Selasa (11/8).
Menurutnya, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat menjadi pengalaman berharga selama mengikuti BSI Explore. Ia tidak hanya dapat mengenal kehidupan masyarakat Desa Cikangkung, tetapi juga belajar mengenai tradisi keagamaan yang masih terjaga hingga saat ini.
Kebiasaan berkumpul di masjid seperti ini juga memperlihatkan kuatnya peran kegiatan keagamaan dalam kehidupan masyarakat Desa Cikangkung. Selain menjadi tempat beribadah, masjid menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, berinteraksi, dan memperkuat hubungan sosial.
Rabu Wekasan dan Tradisi Tolak Bala

Warga Desa Cikangkung mengikuti shalat dan istighasah tolak bala pada malam Rabu Wekasan di Masjid Nurul Iman | Doc: Istimewa
Masyarakat mengenal Rabu Wekasan sebagai Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Hijriah. Di sejumlah daerah Indonesia, masyarakat memiliki tradisi yang berbeda dalam mengisi momentum tersebut. Sebagian masyarakat mengisinya dengan doa bersama, istighasah, sedekah, maupun kegiatan keagamaan lainnya.
Di Desa Cikangkung, masyarakat mengisinya dengan shalat bersama dan istighasah tolak bala. Warga memaknai kegiatan tersebut sebagai ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memanjatkan doa agar mendapatkan perlindungan dan keselamatan.
Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung di Masjid Nurul Iman bukan sekadar aktivitas keagamaan rutin. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan.
Melalui shalat dan istighasah bersama, masyarakat Desa Cikangkung terus menjaga kebiasaan berkumpul dalam kegiatan keagamaan. Di tengah perkembangan zaman, tradisi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan nilai kebersamaan sekaligus menguatkan kehidupan religius di lingkungan desa.
Kegiatan malam Rabu Wekasan di Masjid Nurul Iman menjadi momentum bagi warga Desa Cikangkung untuk bersama-sama berdoa, bermunajat, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Bagi masyarakat, kebersamaan dalam ibadah menjadi bagian penting dari ikhtiar untuk menjalani kehidupan dengan penuh ketenangan dan keberkahan.
BSI Explore 2026 Kenalkan Tradisi Masyarakat Cikangkung
Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi turut mengikuti kegiatan keagamaan masyarakat Desa Cikangkung melalui program BSI Explore 2026. Kehadiran mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan tradisi keagamaan yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Program BSI Explore 2026 mengusung tema “Inspirasi Membangun Negeri”. Sebanyak 30 mahasiswa mengikuti program tersebut di lima desa Kecamatan Ciracap, yaitu Desa Purwasedar, Desa Gunung Batu, Desa Ujung Genteng, Desa Cikangkung, dan Desa Pangumbahan.
Selama berada di Desa Cikangkung, mahasiswa berkesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan mengikuti berbagai kegiatan yang berlangsung di lingkungan desa. Salah satunya adalah shalat dan istighasah bersama dalam rangka mengisi malam Rabu Wekasan.
Melalui BSI Explore 2026, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai kehidupan masyarakat, tetapi juga mendapatkan pengalaman untuk memahami tradisi dan nilai kebersamaan yang berkembang di setiap desa. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa sekaligus upaya mengenal potensi sosial dan budaya masyarakat secara langsung.
- Penulis: Rahma Sri Melati Putri
- Editor: Siti Hasna Wulandari
