Koding dan Computational Thinking Jadi Fokus Penguatan Kompetensi Guru Madrasah
- account_circle Anisa Julia Utami
- calendar_month 20 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Perkuat Pendidikan Digital, Kemenag dan UBSI Gelar Pelatihan Koding untuk Guru Madrasah | Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Sukabumi – Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar Workshop Implementasi Kurikulum Informatika. Kegiatan ini juga menghadirkan Pelatihan Koding Menggunakan Scratch dan Python. Workshop tersebut mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Guru Informatika dalam Implementasi Kurikulum, Computational Thinking, dan Pemrograman Berbasis Proyek”. Agenda ini mendorong tenaga pendidik memperkuat kesiapan menghadapi transformasi digital dalam pendidikan Islam.
Kegiatan ilmiah tersebut menggunakan skema hibrida (hybrid). Sesi pembukaan berlangsung secara tatap muka (offline) dengan kehadiran jajaran pemangku kepentingan, pimpinan universitas, serta para guru madrasah. Rangkaian acara kemudian berlanjut secara online setiap pekan dengan menghadirkan dosen serta mahasiswa berprestasi UBSI sebagai tim pengajar.
Landasan Regulasi KMA No 1503 Tahun 2025 dan Kurikulum Berbasis CINTA
Hadir sebagai pemateri utama, Pengawas Bina Informatika, Dr. Widad Arifin, memaparkan materi seputar kebijakan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 yang menjadi pedoman teknis pelaksanaan kurikulum informatika di madrasah.
Dr. Widad Arifin menguraikan bahwa kebijakan Kemenag mewajibkan seluruh pengawas, pembina, serta pemateri untuk menanamkan filosofi Kurikulum Berbasis CINTA. Nilai ini tidak sekadar diajarkan sebagai materi kognitif, melainkan diintegrasikan ke dalam sikap dan perilaku harian siswa.
“Kurikulum CINTA ini harus menjangkau seluruh murid di madrasah. Integrasinya mencakup cinta terhadap ilmu pengetahuan, cinta sesama manusia, cinta lingkungan, hingga cinta kepada Tuhan,” tegas Dr. Widad Arifin saat menyampaikan paparannya.
Ia menuturkan, sosialisasi program ke tingkat bawah kerap menghadapi kendala karena minimnya jangkauan informasi, meskipun media digital telah dimanfaatkan secara aktif. Oleh sebab itu, kehadiran pilar Kurikulum Berbasis CINTA menjadi fondasi penting agar pemanfaatan teknologi digital seperti koding dan kecerdasan buatan tetap berlandaskan akhlak mulia.
Tantangan Sosialisasi dan Sinergi Bersama UBSI
Dalam sesi wawancara, Dr. Widad Arifin menyampaikan apresiasi mendalam atas terobosan Kemenag serta komitmen UBSI yang memfasilitasi peningkatan kualitas guru madrasah. Sinergi ini dinilai sangat membantu, baik dari sisi penyediaan materi terapan maupun sarana pendukung.
Meski demikian, Dr. Widad Arifin menyoroti tantangan besar dalam mengajak lebih dari 1.100 madrasah untuk terlibat penuh. Keterbatasan waktu mengajar, prosedur birokrasi, hingga alokasi anggaran masih menjadi hambatan bagi sebagian pendidik dalam mengikuti pelatihan.
“Meskipun pola sosialisasi kurikulum saat ini tidak semasif Kurikulum 2013 yang menjangkau hingga ke tingkat paling bawah, kolaborasi bersama UBSI memberikan dampak yang sangat nyata. UBSI sungguh luar biasa dalam mendukung sarana dan prasarana pembelajaran,” ungkap Dr. Widad.
Harapan dan Dorongan Upgrade Promosi UBSI
Menutup pernyataannya, Dr. Widad Arifin berharap kegiatan pelatihan koding dan computational thinking terus berlanjut serta menjangkau lebih banyak masyarakat. Menurutnya, UBSI memiliki potensi besar untuk mencetak lulusan unggul yang siap memasuki dunia kerja.
Ia menyarankan UBSI terus memperkuat strategi promosi dan citra lembaga agar masyarakat semakin mengenal kualitas akademik serta fasilitas modern kampus. Selain itu, pihak kampus dan pengelola madrasah perlu membangun komunikasi secara intensif untuk memastikan program pelatihan teknologi terus berlanjut pada masa mendatang.
- Penulis: Anisa Julia Utami
- Editor: Anita Rahmawati
