Belajar Jadi Pengajar, Tiga Mahasiswa Informatika UBSI Kenalkan Scratch kepada Guru
- account_circle Rifa Fitriyani
- calendar_month 15 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tiga Mahasiswa Informatika UBSI Berbagi Ilmu Scratch dan Coding kepada Guru Madrasah | Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Sukabumi – Tiga mahasiswa Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sukabumi mendapat kesempatan menjadi pemateri dalam Workshop Implementasi Kurikulum Informatika dan Pelatihan Koding menggunakan Scratch dan Python. Kegiatan berlangsung di Aula UBSI Sukabumi Kampus A, Selasa (29/9/2026). Ketiga mahasiswa tersebut yaitu Muhamad Hilal, M. Rifaa Sirajuddin S, dan Nadhif Musyafa A. Mereka menjadi Speaker III dengan materi Pemrograman Dasar menggunakan Scratch.
Workshop mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Guru Informatika dalam Implementasi Kurikulum, Computational Thinking, dan Pemrograman Berbasis Proyek.” Peserta kegiatan terdiri atas guru madrasah dan sekolah tingkat MI, MTs, serta MA/MAK di lingkungan Kemenag Kabupaten Sukabumi. Kesempatan tersebut menjadi pengalaman baru bagi ketiganya. Mereka harus menyiapkan materi yang mudah dipahami guru sekaligus relevan untuk diterapkan kepada siswa.
Siapkan Materi Scratch dari Dasar
Persiapan materi membutuhkan waktu dan perhatian khusus. Ketiga mahasiswa tidak hanya memikirkan materi untuk peserta workshop. Mereka juga mempertimbangkan cara guru nantinya menyampaikan kembali materi kepada siswa.
Hilal menyebut proses tersebut cukup menantang. Tim harus membuat materi yang sederhana, tetapi tetap memberikan pemahaman tentang dasar pemrograman.
“Untuk persiapan materi cukup tricky, karena kami harus bisa membuat materi yang tidak hanya dipahami oleh guru saja, tetapi juga untuk murid yang nantinya akan diajari oleh guru-guru yang mengikuti workshop ini,” ujar Hilal.
Rifaa juga menjelaskan bahwa tim membutuhkan waktu untuk menyusun materi secara bertahap. Mereka harus mencakup dasar Scratch sekaligus mengarahkan peserta agar dapat langsung membuat proyek.
“Persiapan materi kita cukup memakan waktu karena perlu mencakup dasar dari Scratch, tetapi bisa langsung ke project. Jadi perlu usaha lebih dalam proses persiapannya,” jelas Rifaa.
Sementara itu, Nadhif merasa lebih terbantu karena sebelumnya sudah memiliki pengalaman menggunakan Scratch. Ia kemudian menyesuaikan cara penyampaian agar materi dapat diterima oleh peserta yang lebih senior.
“Untungnya ada pengalaman dengan Scratch, jadi persiapan materi teori aman dan hanya perlu menyesuaikan penyampaian agar dapat dipahami oleh audiens yang lebih senior,” ungkap Nadhif.
Ajarkan Scratch hingga Membuat Game
Ketiga mahasiswa menyampaikan materi mulai dari pengenalan Scratch. Peserta mengenal antarmuka, fungsi block, hingga dasar logika pemrograman. Mereka kemudian mengajak peserta membuat proyek sederhana. Tim menggunakan proyek “Catch the Apple” sebagai bentuk implementasi materi.

Praktik membuat proyek “Catch the Apple” menggunakan Scratch | Doc. Istimewa
Hilal menjelaskan, materi tidak berhenti pada pengenalan konsep. Peserta juga mendapat kesempatan menerapkan materi melalui proyek.
Rifaa menyampaikan hal serupa. Menurutnya, tim memberikan materi mulai dari dasar pemrograman Scratch hingga pembuatan proyek sederhana.
“Materi yang kami sampaikan yaitu dasar pemrograman Scratch hingga pembuatan project sederhana sebagai bentuk implementasi dari materi yang dipelajari,” kata Rifaa.
Nadhif juga menyebut materi workshop mencakup pengenalan dan dasar Scratch. Setelah itu, peserta mengikuti praktik membuat proyek game sederhana.
Cara tersebut membantu peserta melihat hasil dari konsep yang mereka pelajari. Peserta tidak hanya mengenal fungsi block, tetapi juga memahami penerapannya melalui sebuah proyek.
Pertama Kali Menjadi Pemateri untuk Guru
Ketiga mahasiswa merasakan pengalaman berbeda saat berdiri sebagai pemateri. Mereka biasanya berada pada posisi sebagai peserta yang menerima materi. Kini, mereka harus menyampaikan pengetahuan kepada para guru. Kondisi tersebut membuat ketiganya sempat merasa gugup.
Hilal mengaku cukup nervous, terutama karena ini menjadi pengalaman pertamanya memberikan materi kepada bapak dan ibu guru.
“Cukup nervous. Apalagi ini kali pertama menjadi pemateri kepada bapak ibu guru. Biasanya kita yang diberikan materi, tapi kali ini kita yang memberi materi kepada mereka,” tutur Hilal.
Nadhif juga menyebut pengalaman tersebut terasa unik. Ia baru pertama kali menjadi pemateri untuk audiens yang memiliki pengalaman lebih banyak.
Rifaa mengaku hanya merasa sedikit gugup pada awal kegiatan. Setelah mulai menyampaikan materi, ia merasa lebih nyaman karena tim sudah menyiapkan materi secara detail.
“Perasaan yang dirasakan saat menjadi pemateri sedikit gugup di awal, sisanya biasa. Kami sudah mempersiapkan materi secara detail sehingga tidak kesulitan saat penyampaian,” ujar Rifaa.
Pengalaman tersebut memberi pelajaran penting bagi ketiga mahasiswa. Mereka belajar bahwa kemampuan menyampaikan materi juga membutuhkan persiapan, kepercayaan diri, dan pemahaman terhadap karakter audiens.
Perjalanan Menyukai Dunia Coding
Menariknya, ketiga mahasiswa juga memiliki cerita berbeda tentang ketertarikan mereka terhadap coding.
Hilal mengaku sangat menyukai coding. Baginya, kepuasan muncul ketika ia berhasil membuat aplikasi yang dapat menjadi solusi untuk masalah yang sering ditemui. Ia merasa bangga ketika hasil kerja dari proses coding dapat digunakan orang lain. Hal tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus menikmati proses belajar pemrograman.
Nadhif justru mengawali perjalanan dengan perasaan berbeda. Ia mengaku awalnya tidak menyukai coding karena merasa bingung melihat berbagai kata yang dapat disusun menjadi sebuah program.
“Saya sendiri awalnya enggak suka karena pusing dan aneh lihat kata-kata random bisa disusun buat bikin program. Tapi jalani aja,” ungkap Nadhif.
Seiring proses belajar, Nadhif memilih untuk tetap menjalani dan mempelajarinya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap suatu bidang dapat tumbuh setelah seseorang mulai memahami dan terbiasa menjalaninya.
Rifaa juga mengaku awalnya tidak terlalu menyukai coding. Ia merasa coding merupakan sesuatu yang harus dijalani terlebih dahulu. Namun, pandangannya berubah setelah mulai menghasilkan sesuatu melalui coding. Rasa nyaman kemudian tumbuh ketika ia melihat hasil dari proses yang telah dilakukan.
“Awalnya tidak suka, tetapi tidak benci juga karena memang harus dilakukan. Lama-lama nyaman saat berhasil menghasilkan sesuatu dari coding tersebut sehingga jadi menyukainya,” jelas Rifaa.
Berharap Ilmu Terus Dibagikan
Ketiga mahasiswa berharap pengalaman dalam workshop tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Mereka ingin terus mendapatkan ruang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan lebih banyak orang.
Hilal berharap materi yang mereka sampaikan dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta. Ia juga ingin kegiatan berbagi ilmu seperti workshop tersebut dapat kembali berlangsung pada kesempatan berikutnya.
Rifaa memiliki harapan yang sama. Menurutnya, kegiatan berbagi pengalaman dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan manfaat melalui ilmu yang mereka miliki.
“Semoga ke depannya bisa lebih banyak sharing pengalaman atau ilmu seperti hari ini,” tutur Rifaa.
Sementara itu, Nadhif berharap seluruh pihak dapat terus berkembang setelah mengikuti kegiatan. Harapan tersebut ia tujukan untuk panitia, pemateri, maupun peserta workshop.
“Semoga selalu jadi lebih baik dari yang sekarang dan lalu, baik untuk kami panitia dan pemateri ataupun untuk para audiens,” kata Nadhif.
Pengalaman Mengajar Jadi Bekal Mahasiswa
Kesempatan menjadi pemateri memberikan pengalaman yang lebih luas bagi ketiga mahasiswa. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan pemrograman, tetapi juga belajar menyusun materi dan berkomunikasi dengan audiens.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam kegiatan berbagi pengetahuan. Ilmu yang mereka peroleh selama kuliah dapat mereka terapkan sekaligus bagikan kepada masyarakat.
Bagi mahasiswa lain, pengalaman Hilal, Rifaa, dan Nadhif dapat menjadi gambaran bahwa kemampuan tidak harus langsung sempurna. Keberanian untuk mencoba, belajar, dan terus berlatih dapat membuka pengalaman baru.
Workshop ini pun menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa dan guru dalam berbagi pengetahuan tentang teknologi. Melalui kegiatan seperti ini, pembelajaran coding dapat berkembang dari lingkungan kampus menuju ruang pendidikan yang lebih luas.
- Penulis: Rifa Fitriyani
- Editor: Anita Rahmawati
