FOMO atau JOMO? Memahami Pilihan Gaya Hidup Digital Generasi Muda
- account_circle Shinta Nur Septi
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

FOMO atau JOMO? Memahami Pilihan Gaya Hidup Digital Generasi Muda. | Sumber : Generate.AI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Berbagai informasi, tren terbaru, hingga aktivitas orang lain dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Pesatnya perkembangan teknologi digital juga melahirkan berbagai istilah yang semakin populer di kalangan pengguna media sosial. Dua di antaranya adalah FOMO (Fear of Missing Out) dan JOMO (Joy of Missing Out). Kedua istilah tersebut menggambarkan cara seseorang menyikapi tren, pergaulan, serta aktivitas di dunia digital yang terus berkembang.
Memahami Perbedaan FOMO dan JOMO
FOMO (Fear of Missing Out) menggambarkan perasaan khawatir atau cemas ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, pencapaian, maupun aktivitas orang lain. Kondisi ini sering muncul setelah melihat unggahan di media sosial yang menampilkan gaya hidup, perjalanan, prestasi, atau berbagai momen menarik. Akibatnya, banyak orang terdorong untuk terus mengikuti tren agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sekitarnya.
Sebaliknya, JOMO (Joy of Missing Out) mengajak seseorang menikmati setiap pilihan tanpa merasa harus mengikuti semua hal yang sedang populer. Seseorang tetap dapat memanfaatkan media sosial, tetapi mampu menentukan batasan sesuai kebutuhan dan prioritas. Pola pikir ini membantu seseorang lebih fokus pada tujuan pribadi daripada mencari pengakuan atau validasi dari orang lain.
Mengapa Generasi Muda Memilih JOMO?
Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental mendorong semakin banyak generasi muda mengenal dan menerapkan konsep JOMO. Mereka menyadari bahwa mengikuti semua tren bukanlah sebuah keharusan. Setiap orang memiliki tujuan, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
JOMO juga membantu mengurangi tekanan sosial yang sering muncul akibat penggunaan media sosial. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk terus memantau aktivitas orang lain dapat dialihkan ke berbagai kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti mengembangkan hobi, mempelajari keterampilan baru, beristirahat, membaca, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat. Kebiasaan tersebut membantu menciptakan keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Gunakan Media Sosial secara Bijak
Media sosial tetap menjadi sarana yang bermanfaat apabila digunakan secara bijaksana. Platform digital dapat membantu seseorang memperoleh informasi, memperluas relasi, mencari inspirasi, meningkatkan pengetahuan, hingga mengembangkan karier. Oleh karena itu, generasi muda tidak perlu menjauhi media sosial, tetapi perlu memahami cara menggunakannya secara sehat dan bertanggung jawab.
Mengatur durasi penggunaan media sosial, memilih konten yang memberikan manfaat, mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan sosial, serta lebih fokus pada tujuan pribadi menjadi langkah sederhana untuk menjaga keseimbangan hidup. Pada akhirnya, menikmati setiap proses sesuai kemampuan diri sendiri akan memberikan ketenangan yang lebih besar daripada terus mengikuti tren hanya karena takut merasa tertinggal.
- Penulis: Shinta Nur Septi
- Editor: Neng Merly
