Bank Sampah 3G Olah Limbah Rumah Tangga Jadi Produk Bernilai
- account_circle OZI
- calendar_month 48 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dosen UBSI Dampingi Bank Sampah 3G Bogor Mengolah Limbah Rumah Tangga | Sumber: Dok. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Bogor – Sampah rumah tangga memiliki potensi ekonomi jika masyarakat mengolahnya dengan tepat. Sebagai contoh, masyarakat dapat mengubah limbah organik menjadi kompos, memanfaatkan minyak jelantah untuk membuat lilin dan sabun, serta mengolah plastik menjadi bahan kerajinan. Melihat potensi tersebut, tim dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yang mendapat julukan Kampus Digital Kreatif, mengembangkan program bersama Bank Sampah 3G (Go Green Greenery) di Perumahan Greenery Permai, Bojonggede, Bogor.
Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Green Economy untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat dengan Pengelolaan Limbah Sampah Rumah Tangga Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pada Bank Sampah 3G (Go Green Greenery)”, tim memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat. Selain mengajarkan pengolahan limbah, tim juga memperkenalkan teknologi untuk mendukung administrasi bank sampah.
Program ini memperoleh dukungan Hibah Pengabdian Masyarakat Pendanaan BOPTN Program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dosen Vokasi Tahun Anggaran 2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui aplikasi BIMA (Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat). Ketua tim, Siti Masripah, bekerja bersama Indah Purwandani dan Ety Nurhayaty serta empat mahasiswa UBSI. Mereka merancang program untuk mengurangi sampah rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas administrasi Bank Sampah 3G.
Empat Pelatihan untuk Mengolah Sampah Menjadi Bernilai
Sebelum program berjalan, Bank Sampah 3G berfokus pada tabungan minyak jelantah dan sampah anorganik. Sementara itu, masyarakat belum mengolah sampah organik secara optimal. Akibatnya, mereka masih membuang sampah tersebut bersama limbah rumah tangga lainnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim UBSI menyusun empat kegiatan utama. Kegiatan itu mencakup pembuatan kompos, pengolahan minyak jelantah, pembuatan ecobrick, serta penerapan aplikasi sistem informasi bank sampah. Setelah berkoordinasi dengan mitra pada 30 April 2024, tim pun mulai menjalankan rangkaian pelatihan.
“Pelatihan pembuatan kompos dilaksanakan pada 18 Mei 2024. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada cara mengolah sampah organik menggunakan komposter yang telah disediakan. Kompos yang dihasilkan diperkirakan dapat dipanen dalam waktu sekitar empat hingga enam minggu, sehingga berpotensi dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,” ujar Masripah dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (27/10).
Selanjutnya, tim mengadakan pelatihan pengolahan minyak jelantah. Pada 15 Juni 2024, masyarakat belajar membuat lilin dari minyak bekas tersebut. Sehari kemudian, peserta melanjutkan kegiatan dengan mempelajari pembuatan sabun dari bahan serupa.
Dalam kesempatan tersebut, Indah menjelaskan bahwa pelatihan mendorong masyarakat mengolah limbah menjadi produk yang berguna. Tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, produk tersebut juga berpotensi memberi nilai ekonomi, terutama bagi ibu rumah tangga.
“Rangkaian pelatihan berikutnya berlangsung pada 13 Juli 2024 melalui pengenalan aplikasi sistem informasi bank sampah. Kegiatan ini menjawab persoalan administrasi mitra yang sebelumnya masih mengandalkan pencatatan manual untuk tabungan nasabah dan keuangan,” kata Indah dalam keterangan rilis yang diterima pada Selasa (27/10).
Berikutnya, tim mengadakan pelatihan ecobrick pada 10 Agustus 2024. Dalam kegiatan ini, peserta memanfaatkan sampah plastik rumah tangga untuk membuat berbagai produk, termasuk kursi ecobrick. Dengan cara tersebut, masyarakat dapat mengurangi limbah plastik sekaligus menghasilkan barang yang bermanfaat.
Digitalisasi Bantu Pengelolaan Bank Sampah
Di sisi lain, tim UBSI juga menyoroti pentingnya tata kelola Bank Sampah 3G. Sebelumnya, pengurus mencatat tabungan nasabah dan transaksi keuangan secara manual. Cara tersebut berpotensi menambah beban administrasi, terutama ketika jumlah data terus bertambah.
Oleh karena itu, tim memperkenalkan aplikasi sistem informasi bank sampah untuk mendukung pencatatan yang lebih terstruktur. Aplikasi ini membantu pengurus mengelola data tabungan dan transaksi keuangan secara lebih praktis.
Lebih lanjut, Ety menilai penguatan manajemen turut menentukan keberlanjutan bank sampah. Menurutnya, pengelolaan limbah perlu berjalan beriringan dengan sistem administrasi yang tertib.
“Melalui pendekatan tersebut, program tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah sampah, tetapi juga pada penguatan kapasitas pengelolaan organisasi. Kombinasi keduanya diharapkan membantu Bank Sampah 3G mengembangkan kegiatan yang lebih terarah dan berkelanjutan,” ungkap Ety.
Nilai Pemahaman Naik dari 40 Menjadi 95
Selain menjalankan pelatihan, tim juga mengevaluasi pemahaman peserta melalui kuesioner. Hasil evaluasi menunjukkan nilai rata-rata pre-test sebesar 40. Setelah mengikuti pelatihan, nilai rata-rata post-test mencapai 95. Dengan demikian, indikator pemahaman peserta meningkat sebesar 55 poin.
“Nilai rata-rata pre-test tercatat sebesar 40, sedangkan nilai post-test mencapai 95. Hasil tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 55 poin pada indikator pemahaman yang diukur dalam program,” jelasnya.
Berdasarkan hasil tersebut, Masripah menilai peserta memahami materi dengan lebih baik setelah mengikuti pelatihan. Meski demikian, masyarakat tetap perlu menerapkan keterampilan secara konsisten agar manfaat program berlanjut setelah masa pendampingan berakhir.
“Melalui pengolahan sampah organik menjadi kompos, pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin dan sabun, pembuatan produk dari plastik, serta penerapan aplikasi pencatatan, program ini memperkenalkan pendekatan pengelolaan sampah yang menggabungkan aspek lingkungan, keterampilan masyarakat, dan teknologi,” katanya.
Pada akhirnya, program Bank Sampah 3G menunjukkan bahwa masyarakat dapat memanfaatkan sampah lebih dari sekadar memilah dan mengumpulkannya. Dengan pendampingan sesuai kebutuhan, warga berpeluang mengurangi limbah sekaligus mengolahnya menjadi produk bernilai guna.
Bagi UBSI, kegiatan ini menjadi wujud penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan masyarakat. Karena itu, tim berharap program tersebut dapat meningkatkan keterampilan warga, mendukung administrasi bank sampah, serta memperkuat penerapan ekonomi hijau dari lingkungan rumah tangga.
- Penulis: OZI
- Editor: Ardila Khaylila
