UBSI Tegaskan Tak Ada Penugasan Mahasiswa untuk Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI
- account_circle Aulia Ramadhani
- calendar_month 0 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

UBSI Tegaskan Tak Ada Penugasan Mahasiswa untuk Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI | Sumber: news.bsi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Jakarta – Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menegaskan tidak mengirim mahasiswa sebagai delegasi dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, Kamis (29/10). Kampus juga menyatakan tidak pernah menerima undangan untuk menghadiri kegiatan tersebut.
Klarifikasi ini muncul setelah sebuah video memperlihatkan perempuan yang mengenakan jas almamater dengan logo lama UBSI dalam kegiatan tersebut.
Wakil Rektor II Bidang Non Akademik UBSI, Adi Supriyatna, menjelaskan bahwa pihak rektorat maupun organisasi kemahasiswaan tidak pernah menerima informasi resmi terkait undangan atau penugasan mahasiswa untuk mengikuti acara itu.
“Pihak UBSI, baik di tingkat Rektorat maupun Organisasi Kemahasiswaan, tidak pernah menerima undangan dan tidak mengirimkan delegasi mahasiswa dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada Kamis (29/10) tersebut,” ungkap Adi dalam keterangannya, Jumat (30/10).
Berdasarkan penelusuran awal, data kampus tidak mencatat individu dalam video tersebut sebagai mahasiswa aktif UBSI. Adi juga menyebut pihak kampus memperoleh informasi dari kolom komentar media sosial yang menyatakan bahwa individu tersebut mengenakan jas almamater pinjaman.
Adi menegaskan bahwa jas tersebut bukan almamater resmi UBSI saat ini. Logo pada jas itu merupakan identitas lama ketika institusi masih berbentuk akademi. UBSI menghentikan penggunaan logo tersebut setelah berstatus sebagai universitas pada 2018. Selain logo, warna jas itu juga berbeda dari almamater resmi yang kini digunakan kampus.
“Kami menyayangkan penggunaan atribut yang identik dengan institusi kami oleh pihak yang bukan civitas academica UBSI. Saat ini tim kami masih menelusuri identitas yang bersangkutan, dan kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi,” jelasnya.
UBSI Telusuri Identitas Individu dalam Video Deklarasi Sumpah Pemuda
Menanggapi nama panggilan Sari yang muncul dalam sejumlah pemberitaan, pihak kemahasiswaan UBSI terus menelusuri identitas individu tersebut. Pemeriksaan awal terhadap data mahasiswa menunjukkan bahwa nama tersebut tidak tercatat sebagai mahasiswa aktif UBSI.
Namun, kampus masih membutuhkan data identitas yang lebih lengkap untuk memastikan kemungkinan status alumni. Adi menegaskan bahwa pihaknya tidak dapat menarik kesimpulan hanya berdasarkan nama panggilan seseorang.
UBSI pun mengimbau masyarakat agar tidak langsung mengaitkan individu dalam video tersebut dengan mahasiswa maupun alumni kampus. Masyarakat perlu menunggu hasil verifikasi sebelum menyimpulkan status yang bersangkutan.
Almamater Menjadi Simbol Identitas dan Tanggung Jawab
Adi menjelaskan bahwa jas almamater dan logo lama tetap memiliki nilai sejarah bagi UBSI. Kampus memahami jika alumni masih menyimpan atribut tersebut sebagai kenang-kenangan sekaligus bentuk kebanggaan terhadap almamater.
Meski demikian, UBSI telah menggunakan identitas baru sejak bertransformasi menjadi universitas pada 2018. Karena itu, atribut lama tidak lagi mewakili identitas resmi kampus. Penggunaannya juga tidak boleh mengatasnamakan institusi dalam kegiatan apa pun, terutama oleh pihak yang bukan bagian dari sivitas akademika.
“Almamater bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kehormatan dan tanggung jawab moral. Karena itu, kami mengimbau alumni maupun masyarakat untuk tidak meminjamkan atau menggunakan atribut tersebut di luar konteks yang semestinya,” tegas Adi.
Ia menambahkan bahwa UBSI akan terus mengenalkan identitas visual terbaru kepada masyarakat. Langkah ini bertujuan membantu publik membedakan atribut resmi universitas dengan identitas lama yang sudah tidak digunakan.
UBSI Kaji Langkah Hukum dan Perkuat Aturan Penggunaan Atribut
Adi menyatakan bahwa UBSI menanggapi serius dugaan pencatutan identitas institusi. Persoalan ini menyangkut nama baik dan integritas perguruan tinggi.
Sebagai langkah awal, kampus terus mengumpulkan dan memeriksa fakta. Proses tersebut mencakup identifikasi individu dalam video, penelusuran asal-usul atribut, serta dokumentasi bukti yang beredar.
Selanjutnya, UBSI akan mengkaji hasil penelusuran bersama tim hukum dan pihak yayasan. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Kampus juga membuka kemungkinan menempuh jalur hukum jika menemukan unsur kesengajaan dalam pencatutan nama institusi.
Dari sisi administrasi, UBSI berencana memperkuat aturan internal mengenai penggunaan jas almamater dan atribut universitas. Kampus juga akan menekankan kewajiban surat tugas resmi bagi mahasiswa maupun pihak yang mengikuti kegiatan eksternal atas nama UBSI.
Selain itu, universitas akan menyampaikan klarifikasi melalui kanal komunikasi resmi. Langkah ini bertujuan memastikan masyarakat memperoleh informasi yang utuh. Jika terdapat pemberitaan yang keliru dalam mengidentifikasi individu tersebut sebagai mahasiswa UBSI, kampus juga membuka kemungkinan menggunakan hak jawab sesuai ketentuan yang berlaku.
UBSI Ajak Mahasiswa dan Alumni Jaga Nama Baik Almamater
Dalam momentum peringatan Sumpah Pemuda, Adi mengingatkan mahasiswa aktif agar menjaga nama baik institusi. Ia meminta mahasiswa memastikan setiap kegiatan eksternal yang membawa nama UBSI telah melalui koordinasi dan memperoleh izin resmi dari universitas.
Kepada alumni, Adi menyampaikan apresiasi atas kebanggaan mereka terhadap almamater. Namun, ia juga mengingatkan agar alumni menjaga atribut kampus dan tidak meminjamkannya untuk kepentingan yang tidak jelas.
UBSI juga mengajak masyarakat agar lebih cermat dalam menyikapi informasi maupun klaim yang mengatasnamakan institusi pendidikan. Masyarakat dapat menghubungi kanal komunikasi resmi universitas jika menemukan informasi yang meragukan.
“Di momentum Sumpah Pemuda ini, mari kita jadikan semangat persatuan sebagai pengingat bahwa identitas dan integritas harus dijaga bersama, karena kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan adalah tanggung jawab kita semua,” pungkasnya.
Melalui klarifikasi ini, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif berharap masyarakat memahami posisi institusi dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI. Universitas juga menegaskan komitmennya menjaga identitas dan nama baik lembaga melalui penelusuran objektif, komunikasi terbuka, serta penyelesaian sesuai prosedur.
- Penulis: Aulia Ramadhani
