Pakai ChatGPT Buat Nulis Tapi Ada Watermark, Apa Bakal Ketahuan?
- account_circle Ardila Khaylila
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Logo ChatGPT | Sumber: Dexerto
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com – OpenAI tengah menyiapkan teknologi watermark tak terlihat untuk teks ChatGPT di Uni Eropa (UE). Teknologi ini memungkinkan organisasi tertentu memeriksa asal tulisan AI tanpa menampilkan label khusus kepada pembaca.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya OpenAI memenuhi ketentuan EU AI Act. ubah kata yang mengandung imbuhan di jadi tidak mengandung imbuhan di
Aturan ini mewajibkan penyedia AI generatif memastikan konten buatan AI memiliki penanda yang dapat mesin baca. OpenAI berencana meluncurkan teknologi ini secara bertahap untuk keluaran teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di wilayah tersebut.
Menurut saya, rencana ini menarik karena perdebatan tentang tulisan AI dan tulisan manusia semakin ramai. Saat ini, banyak orang memanfaatkan AI untuk mengerjakan tugas, menyusun artikel, hingga menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Karena itu, watermark tak terlihat bisa menjadi pendekatan baru untuk mengenali teks buatan AI tanpa mengganggu pengalaman membaca.
Cara Kerja Watermark Tak Terlihat textGrain
OpenAI menyebut teknologi ini sebagai textGrain. Alih-alih menyisipkan karakter tersembunyi atau tanda baca aneh, teknologi ini memengaruhi pemilihan kata dan potongan kata saat model menghasilkan teks.
Pilihan tersebut membentuk pola statistik yang dapat sistem pendeteksi periksa. Dengan cara ini, proses menyalin dan menempelkan teks tanpa mengubah isinya kemungkinan besar tetap mempertahankan watermark.
Selain itu, OpenAI menyatakan bahwa watermark ini tidak menyimpan identitas penulis, informasi organisasi tempatnya bekerja, ataupun prompt yang mereka gunakan.
Sementara itu, pelanggan API OpenAI di seluruh dunia dapat memilih fitur ini pada model yang mendukungnya. Namun, OpenAI tidak mengaktifkan watermark secara otomatis. Perusahaan juga belum berencana membuka alat pendeteksi teks kepada masyarakat umum.
Akurasi dan Keterbatasan Deteksi Teks AI
Untuk sementara, OpenAI akan memberikan akses kepada peneliti dan organisasi ahli yang telah mendapat persetujuan. Perusahaan ingin mengevaluasi keandalan teknologi tersebut sekaligus mengkaji potensi penggunaannya.
Meski begitu, textGrain masih menghadapi sejumlah tantangan. Teks pendek, misalnya, mungkin tidak memiliki cukup kata untuk membentuk pola statistik yang kuat. Selain itu, kode pemrograman, jawaban matematika, dan tulisan faktual cenderung membatasi pilihan kata sehingga sistem lebih sulit menerapkan watermark.
Menurut saya, keterbatasan ini perlu mendapat perhatian. Hasil pendeteksian sebaiknya menjadi petunjuk, bukan bukti mutlak. Tanpa memahami cara kerjanya, seseorang berisiko menuduh orang lain menggunakan AI berdasarkan hasil pemeriksaan yang keliru.
Watermark juga bisa melemah ketika seseorang mengubah teks secara besar-besaran. Penyuntingan, parafrasa, dan penerjemahan berpotensi mengaburkan pola yang sistem tanam sejak awal.
Berdasarkan Code of Practice Uni Eropa untuk konten buatan AI, keluaran di bawah 200 token atau sekitar 150 kata dalam bahasa Inggris serta potongan kode tidak wajib memiliki watermark. Ketentuan ini memperlihatkan bahwa watermark tidak dapat menjelaskan seluruh proses pembuatan tulisan.
Teks yang terdeteksi belum tentu sepenuhnya berasal dari AI. Sebaliknya, ketiadaan watermark juga tidak membuktikan bahwa manusia menulis teks tersebut tanpa bantuan AI.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa mungkin hanya menggunakan ChatGPT untuk memperbaiki tata bahasa dalam makalah yang ia tulis sendiri. Hasil deteksi saja tidak cukup untuk mengukur kontribusi AI dalam karya tersebut. Oleh karena itu, penilaian yang adil perlu mempertimbangkan proses pengerjaan dan peran manusia, bukan sekadar mengandalkan satu hasil pemeriksaan.
Pengembangan textGrain dan Pengalaman Sebelumnya
OpenAI menyatakan bahwa pengujian textGrain tidak menunjukkan penurunan kualitas model yang berarti. Teknologi ini juga hanya memberi pengaruh sangat kecil terhadap kecepatan pembuatan teks.
Selain textGrain, OpenAI turut mengembangkan metode penandaan asal-usul konten AI. Metode tersebut melengkapi teknologi untuk gambar dan audio tertentu, termasuk Content Credentials dan SynthID. Namun, berbeda dari sejumlah alat verifikasi gambar dan audio, OpenAI belum akan membuka pendeteksi watermark teks kepada publik.
Upaya ini juga bukan langkah pertama OpenAI untuk mengenali teks buatan AI. Pada 2023, perusahaan menghentikan AI classifier setelah mengakui tingkat akurasinya rendah. Saat peluncuran, alat tersebut hanya berhasil mengenali teks buatan AI dengan benar sekitar 26% selama pengujian.
Kini, textGrain mencoba pendekatan berbeda. Alih-alih menebak asal tulisan berdasarkan gaya bahasa, teknologi ini menanamkan sinyal sejak model menghasilkan teks.
Pada akhirnya, teknologi watermark tak terlihat berpotensi membantu proses identifikasi konten AI. Namun, pengguna tetap perlu memahami batasannya. Menurut saya, hasil deteksi sebaiknya menjadi salah satu bahan pertimbangan, bukan satu-satunya dasar untuk menilai keaslian tulisan atau menentukan kontribusi seseorang. Teknologi ini juga berpotensi membantu mengenali teks dari ChatGPT, tetapi hasilnya tetap perlu penilaian lebih lanjut.
- Penulis: Ardila Khaylila
- Editor: Ardila Khaylila
