Sukabumihitz – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi menggelar Talkshow Inklusif bertema “Harmony in Leadership: Bersinergi Membangun Organisasi Tanpa Batas Gender” pada Rabu (17/6/2026) di Aula Kampus Universitas BSI Cemerlang. Kegiatan tersebut mulai berlangsung pukul 12.00 WIB dan menghadirkan dua narasumber inspiratif, yaitu Founder Setara.Idn Alifa Johariyah Ulfah, S.Pd., Gr., serta Founder Pribumi Fikri Padilah, S.Pd., C.Ps.
Melalui kegiatan ini, BEM UBSI Sukabumi berupaya meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya kepemimpinan yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada kompetensi tanpa memandang gender. Puluhan peserta dari berbagai program studi mengikuti setiap sesi diskusi hingga tanya jawab dengan antusias.
Talkshow Inklusif Bahas Peran Karakter dalam Membangun Kolaborasi
Dalam pemaparannya, Alifa Johariyah Ulfah menegaskan bahwa kepemimpinan yang kuat berawal dari kemampuan seseorang mengenal dirinya sendiri. Menurutnya, kesadaran terhadap kapasitas, potensi, dan batas diri menjadi fondasi penting sebelum seseorang memimpin orang lain.
“Pemimpin yang baik harus mampu mengendalikan pikiran, ucapan, emosi, dan tindakannya. Ketika seseorang mampu memimpin dirinya sendiri, maka ia akan lebih siap memimpin sebuah organisasi,” ujar Alifa.
Ia menjelaskan bahwa konsep self-leadership menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan organisasi maupun dunia profesional. Pengelolaan diri yang baik membantu seseorang mengambil keputusan secara bijak, menjaga hubungan interpersonal, serta menghadapi tekanan dengan lebih matang.

Alifa juga menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan dalam ruang organisasi dan kepemimpinan. Menurutnya, masyarakat masih sering memberikan label tertentu kepada perempuan yang menduduki posisi strategis. Padahal, kompetensi, integritas, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi faktor utama yang membentuk kemampuan seseorang dalam memimpin.
“Perempuan bukan sekadar bagian dari perubahan. Mereka adalah alasan perubahan itu terjadi,” ungkapnya di hadapan peserta.
Talkshow Inklusif Soroti Stereotip Gender dalam Organisasi
Lebih lanjut, Alifa menjelaskan bahwa masyarakat kerap mengaitkan laki-laki dengan karakter tegas dan berani mengambil risiko, sementara perempuan identik dengan empati dan ketelitian. Cara pandang tersebut sering melahirkan stereotip yang membatasi ruang gerak seseorang dalam organisasi.
Menurutnya, organisasi yang sehat harus membuka kesempatan bagi setiap individu untuk berkembang sesuai kemampuan dan kontribusinya. Organisasi juga perlu memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, kompetensi, dan integritas, bukan berdasarkan gender.
Ia pun mengajak mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas diri, berani mengambil peluang, serta tidak membiarkan stigma sosial menghambat potensi yang mereka miliki.
Memahami Watak untukpel Membangun Kolaborasi
Pada sesi berikutnya, Fikri Padilah mengajak peserta memahami pentingnya mengenali watak dan karakter manusia sebagai dasar membangun organisasi yang solid. Menurutnya, setiap individu memiliki pola pikir, cara berkomunikasi, dan pendekatan yang berbeda ketika menyelesaikan masalah.
Fikri menjelaskan bahwa banyak konflik organisasi muncul karena anggota tim belum memahami karakter satu sama lain secara utuh. Karena itu, seorang pemimpin perlu mengembangkan kemampuan membaca situasi sekaligus memahami karakter setiap anggota tim.
“Ketika kita memahami watak diri sendiri dan orang lain, kita akan lebih mudah membangun komunikasi, mengurangi kesalahpahaman, dan menciptakan lingkungan organisasi yang sehat,” jelas Fikri.
Menurutnya, kemampuan memahami karakter manusia menjadi modal penting untuk membangun tim yang kuat dan produktif. Pemahaman tersebut membantu setiap anggota saling melengkapi serta bekerja sama secara lebih efektif.
Kepemimpinan Inklusif untuk Masa Depan Organisasi
Setelah membahas pentingnya memahami karakter individu, Fikri mengaitkan materi tersebut dengan isu kesetaraan gender dalam kepemimpinan. Ia menegaskan bahwa organisasi modern membutuhkan kolaborasi seluruh anggotanya tanpa membatasi ruang gerak berdasarkan jenis kelamin.

Menurut Fikri, keberagaman perspektif memperkaya proses pengambilan keputusan dan menghasilkan solusi yang lebih baik. Karena itu, organisasi perlu menciptakan lingkungan yang aman, terbuka, serta menghargai setiap perbedaan.
“Organisasi akan berkembang ketika setiap individu memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Kepemimpinan bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mampu merangkul dan memberdayakan timnya,” tegasnya.
Melalui Talkshow Inklusif 2026 ini, BEM UBSI Sukabumi berharap mahasiswa memahami bahwa kepemimpinan modern bertumpu pada kualitas karakter, kompetensi, dan kemampuan berkolaborasi. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk membangun pola pikir yang lebih terbuka serta mendorong lahirnya generasi pemimpin muda yang sanggup menciptakan organisasi yang harmonis, inklusif, dan berdampak positif bagi masyarakat.














