Sukabumihitz – Harga Pertamax naik setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax mulai Rabu (10/6). Kebijakan itu memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Sukabumi. Banyak warga menilai lonjakan harga tersebut dapat memengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga sekaligus mendorong peningkatan konsumsi BBM bersubsidi.
Dalam kebijakan terbaru, Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON 92) sebesar Rp3.950 per liter. Untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan sekitarnya, Pertamina menetapkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Selain itu, Pertamina juga menjual Pertamax Green 95 dengan harga Rp17.000 per liter.
Di sisi lain, pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi. Masyarakat masih dapat membeli Pertalite seharga Rp10.000 per liter dan Bio Solar seharga Rp6.800 per liter.
Baca Juga: Kecelakaan Maut Jalur Lingkar Selatan Tewaskan Pejalan Kaki
Harga Pertamax Naik, Warga Khawatir Beralih ke Pertalite
Selisih harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite membuat sebagian warga memprediksi perpindahan pengguna BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi. Karena itu, masyarakat khawatir permintaan Pertalite akan meningkat dalam waktu dekat.
M. Soleh Hudin (24), warga Desa Kertaangsana, Kecamatan Nyalindung, menilai kebijakan tersebut dapat memicu lonjakan konsumsi Pertalite.
“Dampak lanjutannya adalah migrasi massal konsumen ke BBM bersubsidi. Akibatnya, Pertalite dipastikan semakin langka karena semua orang berburu bahan bakar subsidi,” ujarnya
Menurut Soleh, harga Pertamax naik berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat. Selain itu, biaya transportasi dan distribusi dapat mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok di pasaran.

Soleh juga menilai kondisi tersebut akan paling berdampak pada masyarakat yang bekerja di sektor informal apabila situasi terus berlanjut.
“Para petani, nelayan, ojek, dan angkot akan sangat terpukul. Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan preventif,” tegasnya.
DPRD Minta Masyarakat Tetap Tenang
Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi, Budi Azhar Mutawali, menjelaskan bahwa perkembangan pasar energi global mendorong kenaikan harga BBM non-subsidi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah tetap mempertahankan harga BBM bersubsidi agar masyarakat tetap memperoleh akses energi dengan harga yang terjangkau.
“Alhamdulillah untuk komoditas BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite harganya tidak naik. Artinya, pemerintah sudah mengusahakan kebijakan terbaik bagi rakyat,” ujarnya.
Selain itu, Budi mengimbau masyarakat agar tidak memborong BBM karena khawatir terjadi kelangkaan. Menurutnya, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau distribusi BBM di wilayah Sukabumi.
Karena itu, ia meminta masyarakat tetap tenang dan menyaring setiap informasi sebelum mempercayainya.
“Masyarakat tidak perlu cemas. Pemerintah daerah maupun pusat akan mengambil langkah taktis untuk melindungi kepentingan masyarakat,” pungkasnya.














