Sentuhan Lokal yang Menguatkan Cerita
Tak hanya visual, film Panggil Aku Ayah juga mengangkat budaya lokal dalam dialog dan karakter. Beberapa adegan menggunakan bahasa Sunda, yang menguatkan nuansa lokal sekaligus memperluas daya tarik film di kalangan penonton Indonesia.
Pemeran lain seperti Boris Bokir dan Tissa Biani turut menambah kekuatan narasi lokal. Beberapa adegan memperlihatkan interaksi khas masyarakat Jawa Barat, dari cara bicara, gaya hidup, hingga makanan tradisional.

Meski merupakan adaptasi dari film Korea Pawn, Panggil Aku Ayah dibuat dengan pendekatan yang “melokal” secara utuh. Penggunaan latar Sukabumi memberi warna baru yang membedakan film ini dari versi aslinya.
“Kalau versi Korea sangat kota dan dingin, versi kita justru hangat dan akrab. Itu sebabnya lokasi sangat menentukan,” jelas produser film, Anggia Kharisma.
Sinematografi yang Menyatu dengan Cerita
Pilihan lokasi ini juga memperkuat kualitas sinematografi. Keindahan alami Sukabumi dikombinasikan dengan pencahayaan lembut untuk menciptakan suasana haru dan kehangatan yang menjadi inti cerita film.
Film ini mengisahkan hubungan antara anak dan sosok ayah yang tidak memiliki hubungan darah, tetapi terjalin lewat pengorbanan dan cinta. Dengan latar yang mendukung, film ini bertujuan dapat menyentuh emosi penonton Indonesia.
Dengan mengusung cerita penuh makna dan latar yang kuat, Panggil Aku Ayah bukan hanya menjual kisah, tetapi juga menawarkan pengalaman visual dan budaya yang mendalam. Syuting di Sukabumi membuktikan bahwa film Indonesia mampu tampil autentik, menyentuh, dan dekat dengan keseharian masyarakat.
Baca juga: Film “Panggil Aku Ayah” Siap Bikin Nangis dan Tertawa, Drama Keluarga yang Dekat di Hati