Sanggar Kuda Lumping Lestarikan Kesenian Tradisional Desa Gunungbatu
- account_circle Shinta Nur Septi
- calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

BSI Explore Sukabumi Gali Potensi Kuda Lumping Gunung Batu | Doc: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Gunungbatu – Kesenian kuda lumping menjadi salah satu potensi budaya masyarakat Desa Gunungbatu, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Sejumlah sanggar terus menjalankan kegiatan kesenian sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menjaga budaya lokal.
Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Sukabumi turut menggali potensi budaya lokal melalui program BSI Explore 2026 di Desa Gunungbatu. Program dengan tema “Inspirasi Membangun Negeri” ini mendorong mahasiswa untuk mengenali berbagai potensi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Mengenal Potensi Kuda Lumping di Desa Gunungbatu
Salah satu potensi yang mahasiswa kenali yaitu kesenian kuda lumping melalui kunjungan ke Sanggar Mekar Budaya Asih Jae pada (15/08/2026). Sanggar ini menjadi salah satu sanggar kuda lumping yang menjalankan kegiatan kesenian di Desa Gunungbatu sejak tahun 2000-an.
Masyarakat Desa Gunungbatu mengenal kuda lumping secara turun-temurun. Kesenian ini memadukan gerakan tari dan musik tradisional yang menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat.
Keberadaan sejumlah sanggar turut memberikan ruang bagi kuda lumping untuk terus berkembang. Para pelaku seni menjalankan kegiatan kesenian sekaligus mengenalkan tradisi kepada masyarakat dan generasi muda.
Sanggar Mekar Budaya Asih Jae Jaga Tradisi
Sanggar Seni Mekar Budaya Asih Jae menjadi salah satu sanggar yang mengembangkan kesenian kuda lumping di Desa Gunungbatu. Para pelaku seni menjalankan kegiatan bersama masyarakat sekaligus menjaga kesenian yang telah mereka kenal secara turun-temurun.
Waris, salah satu pengelola Sanggar Mekar Budaya Asih Jae, mengatakan masyarakat membentuk sanggar untuk mempertahankan kuda lumping yang telah dikenal sejak lama.
“Kami membentuk sanggar ini karena ingin terus menjalankan kesenian kuda lumping yang sudah dikenal masyarakat. Dari dulu kesenian ini memang sudah ada dan kami berusaha menjaganya supaya tetap berjalan,” ujar Waris.
Waris juga berharap generasi muda ikut mengenal dan mempelajari kuda lumping agar keberadaan kesenian ini tetap berlanjut.
“Harapannya anak-anak muda mau ikut belajar dan mengenal kesenian ini. Kalau ada yang meneruskan, kesenian kuda lumping bisa tetap hidup dan dikenal oleh masyarakat,” tambahnya.
Kesenian Kuda Lumping Jadi Ruang Pelestarian Budaya
- Penulis: Shinta Nur Septi
