Mengenal Rahasia Secangkir Kopi Berkualitas, Tim PKM UBSI Sukabumi Kunjungi Wintira Coffee
- account_circle Rifa Fitriyani
- calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mengenal Rahasia Secangkir Kopi Berkualitas, Tim PKM UBSI Sukabumi Kunjungi Wintira Coffee | Doc: Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz – Secangkir kopi yang dinikmati setiap hari melewati perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Petani memilih buah kopi terbaik, mengolah hasil panen, melakukan proses roasting, hingga menyajikan kopi melalui teknik penyeduhan tertentu. Setiap tahapan tersebut menentukan kualitas dan cita rasa kopi.
Untuk memahami perjalanan tersebut sekaligus menyusun program pemberdayaan yang tepat, Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sukabumi mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama mitra Wintira Coffee pada (21/06) pukul 07.30–11.30 WIB di Bumi Kopi Sukabumi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dengan tema “Transformasi Usaha Kelompok Tani Kopi Wintira Coffee melalui Penguatan Pascapanen Lanjutan dan Digitalisasi Manajemen untuk Meningkatkan Nilai Tambah Produk.”
Mengenal Perjalanan Kopi dari Kebun hingga Cangkir
Yusti Farlina memimpin kegiatan FGD bersama anggota tim Rusli Nugraha dan Rizal Amegia Saputra. Dua mahasiswa, Rifa Fitriyani dan Nur Hidayat Suharlan, turut mendampingi kegiatan tersebut sebagai bagian dari implementasi pembelajaran di luar kelas.

Tim PKM UBSI Sukabumi bersama Wintira Coffee dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD). | Doc: Istimewa
Dalam diskusi tersebut, tim PKM mengenal lebih dekat profil usaha Bumi Kopi Sukabumi dan Wintira Coffee yang telah berkembang sejak 2017. Wintira Coffee mengolah serta memasarkan kopi lokal Sukabumi sekaligus menjalin kerja sama dengan Kelompok Tani Taruna Tani Mandiri. Informasi tersebut membantu tim memahami kondisi usaha, kebutuhan mitra, serta peluang pengembangan produk kopi lokal.
Teknik Penyeduhan Menentukan Karakter Rasa
Tim PKM juga mempraktikkan teknik penyeduhan kopi menggunakan kertas V60. Metode ini memanfaatkan kertas filter dengan takaran bubuk kopi sekitar 10–14 gram.

Tim PKM juga mempraktikkan teknik penyeduhan kopi | Doc: Istimewa
Pada tahap awal, tim melakukan proses blooming dengan menuangkan sedikit air panas ke atas bubuk kopi. Proses tersebut membantu pelepasan gas karbon dioksida sehingga kopi menghasilkan cita rasa yang lebih optimal.
Memahami Perbedaan Arabika dan Robusta
Diskusi FGD membahas karakteristik dua jenis kopi yang banyak dibudidayakan di Indonesia, yaitu Arabika dan Robusta. Kopi Arabika memiliki cita rasa lebih halus dengan karakter fruity serta tingkat keasaman yang lebih tinggi. Sementara itu, kopi Robusta menawarkan rasa yang lebih kuat, pahit, serta memiliki karakter earthy dan nutty.
Tim PKM juga membandingkan bentuk biji, proses budidaya, hingga waktu panen kedua jenis kopi tersebut. Pemahaman ini membantu tim mengetahui berbagai faktor yang memengaruhi kualitas produk kopi.
Pascapanen dan Roasting Jadi Penentu Mutu
Tim PKM mempelajari proses pengolahan pascapanen yang dilakukan Wintira Coffee. Pada metode Full Wash, pengelola membersihkan lendir pada biji kopi selama kurang lebih satu minggu sebelum memasuki tahap pengeringan.
Selain itu, tim mengenal metode Honey Process yang mempertahankan sebagian lendir pada biji kopi selama proses pengeringan. Metode tersebut terdiri atas Yellow Honey, Red Honey, dan Black Honey. Wintira Coffee juga menerapkan metode Natural dengan mengeringkan buah kopi secara utuh di bawah sinar matahari selama minimal 20 hari.

Tahapan roasting biji kopi Wintira Coffee dalam menghasilkan karakter rasa yang khas. | Doc: Istimewa
Setelah melewati tahap pascapanen, pengelola melakukan proses roasting menggunakan mesin berkapasitas satu kilogram selama sekitar 14 menit. Proses penyangraian dimulai pada suhu 170 derajat Celsius dan berakhir pada kisaran 200 derajat Celsius. Setelah proses roasting selesai, pengelola langsung mendinginkan biji kopi untuk menjaga karakter rasa. Tim PKM juga mengenal tahapan Yellowing Phase dan First Crack sebagai indikator tingkat kematangan biji kopi.
Bekal Menyusun Program Pemberdayaan
Melalui FGD ini, tim PKM memperoleh pemahaman lebih mendalam mengenai proses produksi, tantangan usaha, serta peluang pengembangan Wintira Coffee.Tim akan menggunakan hasil diskusi tersebut sebagai dasar penyusunan program pemberdayaan yang berfokus pada penguatan pascapanen, digitalisasi manajemen usaha, dan peningkatan nilai tambah produk kopi lokal. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM memberikan pengalaman belajar langsung bagi mahasiswa sekaligus menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mitra.
Sebagai bagian dari program hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek, kegiatan ini mendukung upaya peningkatan kualitas produk, penguatan daya saing kopi lokal Sukabumi, serta keberlanjutan usaha Wintira Coffee melalui pendampingan berkelanjutan.
- Penulis: Rifa Fitriyani
- Editor: Rifa Fitriyani
