Dampak Karhutla bagi Kesehatan: Kenali Penyakit dan Cara Pencegahannya
- account_circle Nafisya Maulida Mudrikah
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dampak Karhutla bagi Kesehatan: Kenali Penyakit dan Cara Pencegahannya. | Sumber : Generate.Ai
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta cuaca ekstrem selama musim kemarau dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi masyarakat. Dampaknya tidak selalu berakhir ketika api padam dan asap mulai berkurang. Sisa abu, partikel halus di udara, serta keterbatasan air bersih masih berpotensi mengganggu kesehatan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Salah satu ancaman yang perlu masyarakat waspadai ialah particulate matter (PM2.5), yaitu partikel polusi udara berukuran sangat kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Selain itu, suhu tinggi dan sumber air yang tercemar juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali penyakit yang dapat muncul setelah Karhutla serta menerapkan langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau.
Kenali Berbagai Gangguan Kesehatan Pascakarhutla
Setelah kebakaran berakhir, angin masih dapat menerbangkan abu dan debu sisa pembakaran ke lingkungan sekitar. Partikel tersebut juga dapat mengendap di rumah, jalan, dan perabotan. Jika masyarakat menghirup atau bersentuhan langsung dengan partikel tersebut, mereka berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan.
Gangguan Saluran Pernapasan
Paparan abu dan asap dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Partikel yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Kondisi ini dapat menimbulkan batuk kering atau berdahak, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, bersin, dan terkadang demam.
Paparan tersebut juga dapat memperburuk kondisi penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Partikel iritan dapat memicu penyempitan saluran napas sehingga penderita mengalami sesak napas, batuk, atau mengi. Jika gejala memburuk, penderita perlu segera mendapatkan penanganan medis.
Selain itu, zat iritan dari pembakaran kayu dan biomassa dapat memicu peradangan pada bronkus, yaitu saluran yang membawa udara menuju paru-paru. Peradangan ini dapat menyebabkan bronkitis dengan gejala berupa batuk, produksi dahak, dan rasa tidak nyaman di dada.
Gangguan Mata, Kulit, dan Pencernaan
Debu sisa kebakaran juga dapat mengganggu kesehatan mata. Angin dapat membawa partikel abu hingga masuk ke mata dan mengiritasi konjungtiva, yaitu selaput yang melapisi bagian depan mata dan bagian dalam kelopak mata. Akibatnya, mata dapat memerah, terasa perih, berair, seperti kemasukan benda asing, dan lebih sensitif terhadap cahaya.
Sementara itu, kontak langsung dengan abu dan debu dapat mengiritasi kulit, terutama pada orang yang memiliki kulit sensitif atau berkeringat. Kondisi tersebut dapat memicu kemerahan, gatal, ruam, dan bintik-bintik. Jika seseorang terus menggaruk bagian yang terkena, luka pada kulit dapat meningkatkan risiko infeksi.
Di sisi lain, musim kemarau dapat mengurangi ketersediaan air bersih sehingga masyarakat berisiko menggunakan sumber air yang tercemar. Abu, kotoran, dan mikroorganisme berbahaya dapat mencemari air yang tidak terlindungi dengan baik. Jika seseorang mengonsumsi air yang terkontaminasi, ia berisiko mengalami diare, disentri, atau demam tifoid (tipes).
Suhu tinggi juga membuat tubuh kehilangan cairan melalui keringat. Jika seseorang tidak mengganti cairan yang hilang, ia dapat mengalami dehidrasi, pusing, lemas, dan kram otot. Dalam kondisi yang lebih serius, paparan panas berlebihan dapat menyebabkan heat stroke, yaitu kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Terapkan Langkah Pencegahan untuk Melindungi Kesehatan
Masyarakat dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan pascakarhutla dengan melindungi saluran pernapasan, menjaga kebersihan diri, serta memastikan keamanan air dan makanan. Langkah sederhana ini perlu diterapkan secara konsisten, terutama ketika kualitas udara memburuk dan suhu lingkungan meningkat.
Lindungi Diri dari Paparan Asap dan Abu
Gunakan masker respirator seperti N95, KN95, atau KF94 ketika kualitas udara memburuk dan Anda harus beraktivitas di luar ruangan. Pastikan masker terpasang rapat pada wajah agar dapat menyaring partikel halus dengan lebih efektif. Masker kain biasa umumnya tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap PM2.5. Selain itu, batasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat.
Saat membersihkan rumah, hindari menyapu abu secara kering karena cara tersebut dapat menerbangkan partikel ke udara. Sebagai gantinya, gunakan kain lembap atau alat pel untuk membersihkan lantai, teras, meja, dan perabotan. Cara ini membantu mengurangi debu yang berpotensi terhirup kembali.
Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA untuk membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela ketika asap atau debu dari luar masuk ke lingkungan rumah. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi masuknya partikel polusi ke dalam ruangan.
Jaga Kebersihan Diri dan Keamanan Air
Gunakan kacamata pelindung ketika berkendara atau melakukan kegiatan di luar ruangan yang berisiko menimbulkan kontak dengan debu. Jika debu masuk ke mata, bilas menggunakan air bersih yang mengalir atau gunakan air mata buatan steril sesuai petunjuk pemakaian. Hindari mengucek mata karena gesekan dapat memperparah iritasi dan melukai permukaan kornea. Jika nyeri atau gangguan penglihatan berlanjut, segera periksakan kondisi mata ke tenaga kesehatan.
Setelah beraktivitas di luar rumah, lepaskan pakaian yang terkena debu dan mandi menggunakan sabun untuk membersihkan abu yang menempel pada kulit dan rambut. Langkah ini membantu mengurangi kontak berkepanjangan dengan partikel sisa pembakaran.
Selain menjaga kebersihan diri, penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih secara teratur. Kebutuhan cairan setiap orang berbeda, bergantung pada usia, aktivitas, kondisi kesehatan, dan suhu lingkungan. Karena itu, sesuaikan asupan air dengan kebutuhan tubuh dan anjuran tenaga kesehatan.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, perbanyak konsumsi buah dan sayuran, seperti jeruk, pepaya, brokoli, dan bayam. Makanan tersebut menyediakan vitamin, mineral, serta antioksidan yang membantu tubuh menjalankan fungsi normalnya. Namun, pola makan sehat tidak dapat menggantikan perlindungan dari asap maupun partikel polusi.
Masyarakat juga perlu memastikan air minum berasal dari sumber yang aman dan terlindungi dari pencemaran. Jika keamanan mikrobiologis air diragukan, rebus air hingga mendidih bergolak setidaknya selama satu menit atau ikuti petunjuk otoritas kesehatan setempat. Perlu diingat bahwa merebus air tidak menghilangkan semua jenis pencemar kimia. Oleh karena itu, gunakan sumber air alternatif yang aman jika air diduga tercemar bahan kimia.
Tingkatkan Kewaspadaan Selama Musim Kemarau
Setelah Karhutla, masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara, ketersediaan air bersih, dan perubahan kesehatan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui sumber resmi sebelum beraktivitas di luar rumah. Jika kualitas udara memburuk, kurangi kegiatan berat di luar ruangan dan ikuti anjuran pemerintah setempat.
Lindungi Kelompok Rentan dan Jaga Lingkungan
Masyarakat perlu memberikan perlindungan lebih kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru. Kelompok tersebut perlu menghindari paparan asap dan debu sebisa mungkin. Jika mengalami gangguan pernapasan atau gejala lain yang mengkhawatirkan, mereka perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Selain itu, jaga kebersihan tandon, sumur, dan tempat penyimpanan air agar debu, abu, serta kotoran tidak mudah masuk. Tutup rapat penampungan air untuk membantu menjaga kebersihan sekaligus mencegah nyamuk berkembang biak.
Kenali Gejala yang Membutuhkan Penanganan Medis
Masyarakat perlu mengenali gejala yang membutuhkan pemeriksaan medis. Segera datangi Puskesmas atau fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas yang tidak membaik setelah beristirahat, nyeri dada terutama saat bernapas, demam tinggi yang berlangsung lebih dari dua hari, atau diare berulang yang disertai lemas berat dan tanda dehidrasi.
Jika seseorang mengalami kesulitan bernapas berat atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan darurat tanpa menunggu gejala mereda.
Dampak Karhutla terhadap kesehatan dapat berlanjut meskipun api telah padam dan asap mulai berkurang. Sisa partikel di udara, lingkungan yang berdebu, cuaca panas, serta keterbatasan air bersih tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Oleh karena itu, masyarakat perlu melindungi pernapasan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mengonsumsi air yang aman, serta memantau kualitas udara. Dengan menerapkan langkah pencegahan tersebut, masyarakat dapat mengurangi risiko paparan polusi dan menjaga kesehatan selama musim kemarau.
- Penulis: Nafisya Maulida Mudrikah
- Editor: Neng Merly
