Ja’e Tutup Festival Budaya Anak Pesisir, Cerita Budaya Jawa di Tengah Masyarakat Sunda Purwasedar
- account_circle Ardila Khaylila
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ja’e Tutup Festival Budaya Anak Pesisir, Cerita Budaya Jawa di Tengah Masyarakat Sunda Purwasedar | Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sukabumihitz.com, Purwasedar – Perpaduan budaya Jawa dan Sunda menjadi warna dalam puncak Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 yang berlangsung melalui kegiatan Ja’e pada Minggu, 9 Agustus 2026. Ja’e yang merupakan singkatan dari Jawa Edan, menjadi penutup festival sekaligus mengangkat cerita tentang masyarakat pesisir Purwasedar yang memiliki akar budaya Jawa di tengah lingkungan Sunda.
Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Ja’e juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali budaya yang tumbuh dan berkembang di pesisir Sukabumi. Melalui kegiatan tersebut, warisan budaya Jawa yang hidup berdampingan dengan budaya Sunda kembali diperkenalkan sebagai bagian dari keberagaman masyarakat Purwasedar.
Kisah di Balik Budaya Ja’e
Menurut cerita masyarakat setempat, keberadaan masyarakat Jawa di wilayah tersebut bermula pada masa kolonial Belanda. Saat itu, sejumlah orang dari Jawa Tengah mendapat tawaran pekerjaan dari pihak Belanda. Namun, pihak Belanda justru membawa mereka berlayar tanpa memberi tahu tujuan sebenarnya.
Setelah sampai di wilayah Sukabumi, mereka kemudian bekerja dan menetap. Seiring waktu, sebagian dari mereka memilih untuk tidak kembali ke daerah asal. Mereka lalu membangun permukiman dan membentuk kehidupan baru bersama masyarakat sekitar.
Kisah tersebut menjadi salah satu bagian dari cerita turun-temurun mengenai asal-usul masyarakat Jawa di wilayah pesisir Purwasedar. Karena itu, Ja’e tidak hanya menampilkan kesenian, tetapi juga mencerminkan pertemuan budaya Jawa dan Sunda yang telah berkembang sejak lama.
Ja’e, Puncak Festival Budaya Anak Pesisir
Ja’e atau Jawa Edan menjadi identitas tersendiri pada acara puncak Festival Budaya Anak Pesisir Series 4. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali budaya Jawa yang tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan pesisir Sukabumi.

Pertunjukan kuda lumping dalam rangkaian Ja’e di Purwasedar, Minggu (9/8/2026)| Doc.Istimewa
Festival ini juga memberi kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal berbagai bentuk seni dan tradisi. Melalui Ja’e, masyarakat dapat melihat bagaimana budaya dari daerah asal para leluhur tetap bertahan dan berpadu dengan budaya setempat.
Selain membawa nilai budaya, kegiatan tersebut turut menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Anak-anak, generasi muda, dan warga dapat berkumpul serta menikmati berbagai rangkaian kesenian dalam suasana penuh kebersamaan.
Menjaga Warisan Budaya Pesisir
Puncak Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 melalui Ja’e menjadi momentum untuk mengenalkan kembali kekayaan budaya yang tumbuh di pesisir Purwasedar. Perjalanan masyarakat Jawa yang hidup berdampingan dengan masyarakat Sunda turut membentuk identitas budaya yang berkembang di wilayah tersebut.
Cerita tentang asal-usul masyarakat, kesenian, serta tradisi yang masih bertahan menjadi warisan yang penting untuk dikenalkan kepada generasi berikutnya. Upaya tersebut dapat menjaga agar keberagaman budaya masyarakat pesisir tetap dikenal di tengah perubahan zaman.
Festival Budaya Anak Pesisir Series 4 pun tidak berhenti sebagai kegiatan hiburan. Melalui Ja’e, masyarakat kembali menghidupkan cerita budaya, memperkenalkan tradisi kepada generasi muda, sekaligus mempererat kebersamaan warga Purwasedar.
- Penulis: Ardila Khaylila
- Editor: Lusi Mardiana
